Selasa, 10 April 2012

[Buku] Sihir Rempah dan Nestapa Nusantara

Data Buku.

Sejarah Rempah: Dari Erotisme ke Imperialisme. Jack Turner. Penerjemah: Julia Absari. Komunitas Bambu, Depok, 2011. 380 hlm.

TERNATE itu sihir untuk para penguasa dan petualang di dunia. Mereka penasaran untuk menikmati dan menguras rempah. Ternate dengan berlimpahnya rempah telah memberi pengaruh besar atas arus sejarah perubahan dunia. Rempah menggerakkan kolonialisme dan kapitalisme bagi Eropa. Sejarah itu merupakan halaman-halaman fantastis saat mengenang Nusantara sebagai ruang politik-ekonomi global dari abad ke abad. Rempah adalah pemicu persaingan dagang, perebutan kekuasaan, eksperimen ilmu, dan teknologi.

Jack Turner dalam buku unik ini mengungkap pelbagai fakta dan imajinasi rempah. Publik Eropa mendefinisikan rempah, adalah harta, simbol kekayaan, keperkasaan seksualitas, dan citra kekuasaan. Rempah menimbulkan “air liur” untuk selera makan, selera imajinasi, selera seks, selera politik, selera ekonomi, dan selera uang. Semua itu diperebutkan, meski mereka mesti kehilangan uang, jabatan, dan nyawa. Sihir rempah menular sejak abad ke-15 ke pelbagai belahan dunia. Rempah pun menjadi penentu nasib Nusantara, Asia, dan Eropa.

Jack Turner mencatat bahwa pelbagai pemitosan dan pemujaan rempah di Eropa disebarluaskan melalui teks-teks sastra. Sekian novel dan puisi ditulis dan disebarkan demi memuaskan “kemabukan” Eropa atas imajinasi Ternate dan sihir rempah. Sekian narasi eksotis termuat dalam novel The History of Ruiz Diaz and Quixaire: Princess of Moluccas garapan Miguel Cervantes. Carlo Cipolla menulis buku parodi Le Poivre: Moteur de l’histoire. Walth Withman dan Alfred Tennyson menceritakan rempah dalam puisi-puisi memukau. Voltaire (1756) juga menuliskan arti besar rempah-rempah bagi nasib Eropa: "Setelah tahun 1500, tidak ada lagi lada yang dapat dimiliki di Kalikut tanpa adanya pertumpahan darah."

Sekian teks sastra cenderung menempatkan rempah dalam bingkai fantasi mistis. Para pengarang menjadikan rempah sebagai unsur dekoratif dunia fantasi. Sastra justru memicu atmosfer keterpukauan untuk publik Eropa mengenali dan mengalami Nusantara. Rempah mirip panggilan imajinatif, meski bisa ilusif. Peran sastra memberi pengesahan bahwa imajinasi rempah “melumuri” Eropa saat bergerak dengan pamrih-pamrih imperialisme di dunia Timur.

Jejak narasi imajinasi rempah bisa disimak dalam petikan puisi Camoes dalam Lusiad (1572): Lihatlah pulau-pulau yang tak terhitung/ Terhampar di laut timur./ Lihatlah Tidore dan Ternate,/ Dari puncaknya yang berkobar, meletup gelombang api/ Kau akan melihat pepohonan cengkih yang tajam, dibeli dengan darah bangsa Portugis.

Bait ini mengesankan visualitas atas eksotisme Timur di mata Eropa dan sihir rempah meski memicu pertumpahan darah. Rempah menjadi titik pikat bagi pelbagai bangsa Eropa untuk mengadu kekuasaan dan pesta uang.

Ternate dan Tidore memang antologi sejarah tokoh dan narasi dunia. Ternate dan Tidore mengingatkan kita atas sosok-sosok pemimpin ekspedisi legendaris: Marco Polo, Columbus, Vasco da Gama, Magellan. Kapal-kapal berdatangan ke Maluku. Aliansi penguasa, petualang, dan saudagar menguras keberlimpahan rempah dan membawa pulang imajinasi ketimuran: erotis dan eksotis. Rempah telah mendatangkan laba menggiurkan. Nafsu laba itu menimbulkan pertumpahan darah. Rempah menarasikan sejarah serakah, darah, air mata, derita, dan arogansi. Rempah pun jadi geliat peradaban untuk mengantarkan Eropa ke selebrasi kuliner, seksualitas, imperialisme, kapitalisme.

Rempah menebar sihir imajinasi ke pelbagai kalangan: raja, politisi, pendeta, saudagar, pengarang, pelukis, serta dokter. Rempah diakui meningkatkan selera dan derajat makan ala elite Eropa. Rempah menguatkan libido dan melipatgandakan berahi. Rempah jadi obat untuk pelbagai penyakit. Rempah mendatangkan uang berlimpah. Rempah memberi aksentuasi angan-angan tentang surga. Rempah menjelma cerita dan lukisan. Rempah memang sihir tak tepermanai.

Buku ini menguak sihir dan karma rempah sebagai dalil pengisahan Eropa. Perjalanan kapal selama sekian bulan meminta tebusan eksploitasi di "surga rempah". Puja rempah di Eropa memang menularkan mitos-mitos: uang, seks, dan kekuasaan. Eropa menggelar pesta atas nama sihir rempah, tapi Nusantara merana. Imperialisme melukai dan mendustai.

Rempah mengusung duka lara. Pramoedya Ananta Toer mengenang dalam selisik pertanyaan: “Bukankah sebab kolonisasi dunia oleh Eropa adalah pulau-pulau penghasil rempah di Indonesia?” Rempah justru menguak air mata panjang Indonesia selama tiga abad. Bangsa-bangsa Eropa saling memperebutkan Ternate demi rempah. Kisah panjang imperialisme melahirkan nestapa Nusantara.

Rempah jadi mitos besar di Eropa. Jack Turner mengungkapkan bahwa rempah adalah "bumbu kehidupan". Rempah memberi arti bagi kelangsungan nasib politik, ekonomi, sosial, praktek spiritual, percintaan, seni, kesehatan, dan seksualitas. Semua itu kadang bernalar, tapi kerap mengandung takhayul. Eropa justru berlena diri dalam mitos dan takhayul rempah. Selebrasi ini membuktikan sihir rempah melampaui kalkulasi rasionalitas. Rempah adalah "komoditas panas": memabukkan Eropa, tapi menyengsarakan Nusantara. Rempah pun mengubah sejarah dunia melalui pemujaan di Eropa.

Buku ini mengundang pembaca ke episode-episode sejarah Maluku, Nusantara, dan Eropa. Sejarah itu berjalan disebabkan rempah. Negeri ini memang sejak dulu adalah "kemolekan" dan "surga" untuk mata imperialisme dan kapitalisme. Nusantara jadi korban eksploitasi dan menanggung derita tak tersembuhkan. Rempah mengingatkan kita tentang bait-bait luka. Rempah memang sihir bagi dunia, tapi mewariskan antologi memori ironi. Begitu. n

Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo
Sumber: Lampung Post, Minggu, 8 April 2012

Tidak ada komentar: