Minggu, 24 Oktober 2010

SAATNYA PEMUDA BERKARYA

Profil Lampost, Minggu, 24 Oktober 2010

M. RIDHO FIKARDO, KETUA DPD PARTAI DEMOKRAT LAMPUNG

Era pemimpin muda sedang tren di Lampung tahun ini. Setidaknya lima kabupaten dipimpin anak muda. Terakhir, tabu ketua partai besar yang sebelumnya dikangkangi "orang tua" juga bergeser. Apakah ini saatnya pemimpin muda berkarya?

Lampung menyambut Hari Sumpah Pemuda ke-92, 2010 dengan munculnya pemimpin muda. Tiga bupati muda terpilih pada pilkada kada pertengahan tahun ini. Ada Aries Sandi Darma Putra (Pesawaran), Rycko Menoza (Lampung Selatan), dan Bustami Zainudin (Way Kanan). Mereka menambah jumlah pemuda yang menjadi bupati setelah Bambang Kurniawan (Tanggamus), dan Zainal Abidin (Lampung Utara) yang lebih dulu bertakhta.

Tren ini tampaknya semakin kuat setelah Partai Demokrat Lampung, partai besar besutan Susilo Bambang Yudhoyono, akhirnya memilih M. Ridho Ficardo sebagai ketua Dewan Pimpinan Daerah.

Ada kekagetan luar biasa ketika sosok pemuda berusia 30 tahun ini terpilih, apalagi secara aklamasi. Padahal, nama dan reputasinya belum begitu dikenal di Lampung.

Untuk mengetahui siapa dan apa yang akan dilakukan untuk Partai Demokrat dan Provinsi Ruwa Jurai ini, wartawan Lampung Post Sudarmono mewawancarai M. Ridho Ficardo, Kamis (21-10). Berikut petikannya.

Mas Ridho, nama Anda menjadi omongan orang di Lampung dalam sepekan terakhir setelah terpilih secara aklamasi pada Musda Partai Demokrat Lampung pekan lalu. Mewakili rakyat Lampung, saya bertanya, sebenarnya siapa Anda?

(Tersenyum). Saya orang Lampung. Saya lahir di Bandar Lampung, masa kecil tinggal di kompleks perkebunan Gunung Madu (Lampung Tengah, red), dan sekolah dari TK sampai SMP di kebun (di kompleks industri gula PT GMP), red).

Karena di dalam (kompleks) tidak ada SMA, saya melanjutkan sekolah di SMA Al Kautsar, Bandar Lampung. Setelah lulus, saya melanjutkan kuliah di Bandung, lalu melanjutkan S-2 di Universitas Indonesia (UI) di Jakarta. Setelah itu, saya kembali ke Lampung dan menjadi karyawan di PT Sugar Group. Itu perjalanan pendidikan dan teritorial saya.

Saya katakan orang Lampung karena ibu saya asal Kotaalam, Kotabumi. Jadi, saya asli orang Lampung. Saya keluar Lampung karena menuntut ilmu.

Terus terang, orang kaget karena nama Anda muncul sekonyong-konyong. Apa komentar Anda?

Itu ada benarnya. Tetapi untuk diketahui, saya adalah aktifis Osis dan Pramuka sejak SMP sampai perguruan tinggi. Dari kepanduan itu saya mendapat modal besar bagaimana cara berorganisasi. Sejak SMA, saya dipercaya sebagai salah satu anggota Dewan Kerja Daerah Pramuka Lampung. Lalu, menjadi anggota Dewan Kerja Nasional Pramuka. Berbagai event kepanduan daerah, nasional, dan internasional sudah saya ikuti.

Saat kuliah, saya sangat aktif di berbagai acara kajian akademik dan kelembagaan. Memang saya punya ketertarikan khusus kepada masalah-masalah kemiliteran, pertahanan, dan kajian intelijen. Itu yang kemudian mendekatkan saya kepada dunia politik. Padahal, S-1 saya Fakultas Pertanian. S-2 saya baru pada program Kajian Strategi Intelejen di UI. Saya juga sudah mengikuti Lemhannas Alumni XLIII tahun 2009.

Kiprah politik Anda di Lampung?

Memang saya selama ini belum aktif di Lampung. Tetapi saya sudah bergabung di Partai Demokrat cukup lama dan menjadi pengurus di Pusat (DPP) di Kompartemen Bidang Politik DPP. Jadi, saya sudah cukup paham dengan konstelasi politik nasional, terlebih di Partai Demokrat.

Kalau teman-teman Demokrat Lampung sudah kenal saya sejak lama. Karena selama di DPP, saya sering kontak dengan hampir semua pengurus dan kader Partai Demokrat Lampung. Tetapi kalau dengan masyarakat Lampung, saya akui mungkin belum banyak yang tahu.

Bagaimana Anda bisa langsung "menguasai" DPD Demokrat Lampung?

Saya menganggap sesuatu hal yang alamiah saja. Meskipun saya selama ini di DPP, sebagai orang Lampung, saya tentu punya perhatian lebih kepada DPD Lampung. Maka, wajar jika dinamikan politik, baik internal Demokrat maupun Lampung pada umumnya, saya cukup paham. Lalu, ketertarikan itu membuat saya merasa perlu untuk ikut berkiprah di sini. Dan saya pikir, ini adalah saatnya.

Mengenai tudingan, Anda seolah-olah instan banget?

Itu terserah yang menilai. Yang pasti, semua proses ketika akhirnya saya menyatakan maju pada musda kemarin, sudah dilalui dengan ikhtiar yang cukup. Sebagai anak muda, saya punya cara kerja yang mungkin lebih leading dibanding kandidat lain, mungkin. Sejak awal, saya sudah menjalin komunikasi efektif dengan teman-teman pemilik suara. Lalu, saya presentasi ke setiap mereka dengan menawarkan solusi-solusi dan opsi-opsi jika kemudian terpilih menjadi ketua. Dan, tampaknya jurus-jurus saya ini masuk.

Memang, apa sih tawaran Anda?

Saya pikir relatif sama dengan teman-teman lain. Di atas konsep, semua relatif normatif juga. Mungkin yang dilihat akan menjanjikan adalah bagaimana komitmen menegakkan sesuatu yang normatif itu menjadi teguh. Kita semua punya political will, tetapi kadang gagal mengubah menjadi political do. Ini yang saya tonjolkan.

Political do?

Ya, semua harus menjadi kerja dan dikerjakan, bukan sekadar kata.

Anda punya ilustrasi?

Di partai, kita sering berkutat lama dan adu urat ketika penentuan caleg. Ini sekadar contoh. Aturan sudah jelas, tetapi faktanya sangat sulit seorang ketua partai itu berlaku adil dan bijak. Saya paham karena tarik-menariknya amat kuat. Nah, di sini jualan saya adalah transparansi, akuntabilitas, dan jaminan semua sistem dapat diakses. Kita akan duduk bersama untuk merancang mekanisme dan peraturan yang fair. Dan, mungkin karena saya orang muda dan mereka tahu kebiasaan saya yang bekerja apa adanya, mereka bisa terima.

Anda merasa menjadi "jalan tengah" atas seteru berkelanjutan di Partai Demokrat Lampung?

Itu dinamika politik, lah. Bukan seteru. Saya pikir, akhir-akhir ini sudah sangat baik-baik.

Soal penengah, saya tidak merasa seperti itu. Yang pasti, usai pelantikan saya kemarin, semua menyatakan mendukung saya. Kalau kemudian dianggap sebagai penengah dan memperbaiki keadaan, saya sangat bersyukur.

Orang menuduh Anda sebagai bayangan dari ayah Anda yang orang penting di perusahaan besar di Lampung. Ada komentar?

Saya pikir, semua orang sudah ditentukan kelahirannya dari rahim siapa. Dan takdir ini tidak boleh menjadi alasan orang untuk apriori dengan karya yang dilahirkan dari bapak yang mana pun. Saya beruntung lahir dari bapak yang seorang tokoh, tetapi saya berusaha untuk melepaskan dari bayang-bayang itu. Meskipun tidak mudah.

Terakhir, apa yang akan Anda buat untuk Demokrat dan Provinsi Lampung?

Tugas ini sudah ada batas kewenangan dan haknya. Yang kemudian harus dilakukan oleh kita semua, adalah bagaimana bekerja secara maksimal.

Sebagai ketua partai, saya berkomitmen untuk bekerja maksimal. Target nasional 30% pada Pemilu 2014 harus saya drive. Menjadi kewajiban saya untuk terus memacu kinerja semua person dan lembaga yang sudah menyatakan bersedia bekerja untuk partai ini. Terlebih kepada anggota Dewan dari Demokrat, ini adalah kerja keras kita ke depan.

Tidak ada komentar: