Minggu, 17 Oktober 2010

MANUSIA, PANGAN DAN LINGKUNGAN

Opini Lampost, Senin, 18 Oktober 2010

THOMAS PRASASTI
Pendamping Petani, tinggal di Bandar Lampung

Tujuan Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober 2010, adalah membangkitkan dan meningkatkan kesadaran, perhatian dan pemahaman umat manusia terhadap kesetiakawanan dan kerjasama nasional maupun internasional dalam mengatasi masalah-masalah pangan, gizi, dan kemiskinan.

Manusia tidak dapat hidup tanpa pangan. Maka ketika di satu sisi jumlah penduduk begitu pesat, sementara di sisi lain lahan pertanian pangan semakin tergerus, sudah selayaknya kita semua khawatir akan ketercukupan pangan di masa depan. Apalagi jika pangan tersebut bertumpu pada satu jenis sumber pangan, dalam hal ini di Indonesia adalah beras.

Dengan diversifikasi pangan, terlebih melalui sumber pangan lokal, diharapkan ketahanan pangan kita meningkat. Itu artinya ketahanan pangan tidak hanya berada di gudang-gudang Bulog, namun di tiap rumah tangga. Hal tersebut mensyaratkan ketersediaan sumber pangan yang mencukupi dari segi kuantitas, kualitas, dan keterjangkauan.

Pangan tentu tak lepas dari pertanian dalam arti luas meliputi pertanian, peternakan, perkebunan, dan perikanan. Subjek yang mengampu pangan kita, bangsa ini, adalah petani. Sayangnya hingga saat ini petani belum menjadi subjek di rumahnya sendiri. Pemerintah belum terasa kehadirannya dalam membantu petani mengatasi persoalannya; mulai ketersediaan benih dan bibit yang terjangkau dan berkualitas, ketersediaan pupuk dan pestisida yang murah dan ramah lingkungan, serta menstabilkan harga ketika musim panen raya.

Petani juga menghadapi perubahan iklim yang ekstrem; panas terik yang menyebabkan kekeringan atau hujan deras yang berakibat banjir dan longsor, sama-sama menyebabkan risiko gagal panen. Belum lagi kerusakan lingkungan akibat penggunaan pestisida sintetis berlebihan, yang mengakibatkan mutasi hama dan penyakit yang sulit diatasi. Kegagalan panen tak jarang mengakibatkan banyak petani terjerat pada pengijon (rentenir). Maklum mereka kebanyakan tidak berpendidikan formal, sehingga tidak dapat mengakses informasi mengenai permodalan.

Sementara banyak lembaga permodalan yang takut untuk meminjamkan kredit kepada petani, sebab risikonya terlalu besar, itu pun masih ditambah pengembalian menunggu musim panen. Daripada tidak bisa menanam dan tidak makan, banyak petani akhirnya terpaksa meminjam kepada pengijon. Bayarnya bisa panen nanti, tapi bunganya selangit. Belum lagi biasanya pengijon tadi mensyaratkan hasil panen dijual padanya, tentunya dengan harga yang jauh di bawah pasar. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula, demikianlah nasib petani kita. Maka kebanyakan petani menasihati anak-anak mereka demikian: "Belajarlah yang rajin, sekolah biar pintar, supaya nanti tidak jadi petani seperti bapakmu."

Luas rata-rata lahan 0,3—0,5 ha per rumah tangga tidak dapat mengampu kebutuhan hidup layak. Generasi muda memilih hijrah ke kota untuk memperoleh masa depan lebih baik. Namun, tanpa bekal pendidikan dan ketrampilan, akhirnya berujung menjadi buruh dengan upah yang tidak memenuhi kebutuhan hidup layak. Tidak hanya pangan, perumahan dan sanitasi lingkungan terpaksa jauh dari layak karena keterbatasan uang. Kesehatan dikorbankan, apalagi untuk urusan pendidikan. Akhirnya lingkaran ini menciptakan (atau melanggengkan) generasi yang semakin tidak berkualitas, yang dapat dieksploitasi terus-menerus.

Sementara untuk yang mencoba bertahan sebagai petani, daya dukung alam semakin sulit diharapkan. Hutan sebagai penjaga sumber air dibabat dan berubah menjadi lahan perkebunan, pertambangan, industri, dan perumahan. Privatisasi atas benih, bibit oleh industri penyedia benih, dan hilangnya plasmanutfah menyebabkan petani harus memperoleh benih dan bibit dengan harga tinggi. Tanpa daya dukung tersebut, ditambah gerusan oleh gaya hidup konsumtif yang ditawarkan televisi dan iklan, banyak petani akhirnya melepaskan lahan pertaniannya, dan akhirnya menjadi buruh di lahannya sendiri. Petani-petani kreatif yang mencoba menyilangkan tanaman yang dibudidayakan demi mendapatkan benih unggul, dihantui oleh kriminalisasi oleh industri penyedia benih. Maka jangan tanya kepada petani tentang kebanggaan profesi, mayoritas dari mereka akan menjawab, "Kami hanya petani".

Tanpa kebanggaan, tanpa masa depan, jumlah petani dari generasi ke generasi semakin susut. Lantas siapa yang mengampu pangan kita, pangan warga bangsa ini? Jawaban yang paling logis adalah impor. Padahal bangsa yang pangannya sudah tergantung dari bangsa lain, sama saja sudah kehilangan kedaulatannya. Untuk mencegah hal tersebut, seluruh elemen bangsa ini: pemerintah, pengusaha, dan petani, perlu duduk bersama, dengan niat baik, atas nama nasionalisme, dan mencari solusi. Semoga momentum peringatan HPS kali ini tidak hanya berhenti pada selebrasi dan seremonial saja, tetapi benar-benar menyentuh tiga inti perhatian: pangan, manusia, dan lingkungan hidup.

1 komentar:

someone in heaven mengatakan...

Menurut saya, permasalahan Bangsa Indonesia adalah kurang pedulinya akan kekayaan alam. Rakyat Indonesia akan lebih bangga apabila terjun ke dunia industri ketimbang dunia pertanian yang justru merupakan potensi kekayaan negara kita.

Apabila Anda memiliki saudara dan ingin merubah paradigma "pertanian" bergabunglah di Institut Pertanian Bogor khususnya Ilmu dan Teknologi Pangan. Anda juga dapat membaca link dibawah ini mengenai mengapa saya memilih IPB. Terimakasih. ^^
http://aa09.student.ipb.ac.id/2010/12/15/alasan-memilih-ilmu-dan-teknologi-pangan-itp-ipb/