Kamis, 21 Oktober 2010

ISLAM DAN BUDAYA LOKAL

Radar Lampung, Sabtu, 22 Mei 2010

Oleh: Taufik Akbar, M.Ag.
Pemerhati Masalah Sosial Keagamaan

Kebudayan adalah keseluruhan pengetahuan yang dimiliki manusia selaku makhluk sosial atau pedoman bagi kehidupan manusia yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat tertentu. Isinya perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan yang dihadapi serta mendorong dan menciptakan tindakan-tindakan yang diperlukan masyarakatnya sendiri.

INTERAKSI Islam dan budaya lokal adalah sebagai upaya untuk melihat hubungan dinamis antara Islam dengan berbagai nilai dan konsep kehidupan yang dipelihara dan diwarisi serta dipandang sebagai pedoman hidup oleh masyarakat terkait. Pedoman hidup dimaksud juga mencakup tradisi yang diwarisi dari generasi ke generasi yang hingga kini fenomenanya masih tampak.

Interaksi sebagai hubungan dinamis yang terjadi antara elemen (budaya ) secara teoritis dapat bergerak diantara kutub” ekstrim”. Yaitu konflik dan intergrasi. Konflik dapat melahirkan penolakan meski tidak selalu demikian. Oleh karena itu, baik konflik yang dapat melahirkan penolakan maupun integrasi sebagai proses sesuai menyesuaikan tidak pernah dapat berjalan secara sempurna. Dengan kata lain, dalam pertemuan dua budaya yang berbeda tidak semua unsur budaya yang masuk tertolak secara keseluruhan dan juga tidak dapat terintegrasi secara penuh. Di antara dua kutub tersebut dapat terjadi proses tarik menarik yang dapat mendorong terjadinya kompromitas. Yaitu adaptasi/akomodasi maupun asimilasi.

Sebuah unsur kebudayaan tertolak dalam sebuah proses interaksi bila terjadi pertentangan yang sangat menyolok dengan nilai-nilai lokal. Tetapi, unsur-unsur yang bertentangan tersebut dapat saja terakomodasi, bila unsur-unsur yang bertentangan dimodifikasi agar sesuai dengan budaya yang berlaku, atau unsur-unsur baru tersebut dapat diterima dengan jalan melakukan reinterpretasi.

Hal tersebut dapat terjadi dalam sebuah proses interaksi. Karena, pada setiap kebudayaan terdapat suatu kemampuan untuk bertahan dan menyeleksi pengaruh budaya luar yang diwujudkan dengan penolakan atau mendiamkan. Demikian pula kemampuan mengakomodasi serta kemampuan mengintegrasikan budaya luar kedalam budaya asli.

Dengan demikian, format yang mungkin untuk dirumuskan dalam melihat interaksi antara Islam dan budaya lokal yaitu konflik, adaptasi/akomodasi, asimilasi, dan integrasi. Proses adaptasi dan asimilasi yang terjadi di antara konflik dan integrasi dapat menghasilkan perpaduan antara masing-masing nilai budaya untuk mencapai satu budaya khas dan bercitra lokal.

Perpaduan dua budaya sehingga menghasilkan budaya khas dan bercitra lokal sangat memungkinkan untuk terwujud. Sebab dalam setiap pertemuan antara dua budaya, manusia membentuk, memanfaatkan, dan mengubah hal-hal yang paling sesuai dengan kebutuhan. Dengan titik tolok inilah dalam kerangka kebudayaan khususnya dalam proses akulturasi lahir apa yang dikenal dengan istilah local genius, yaitu kemampuan menyerap sambil seleksi dan pengolahan aktif terhadap pengaruh kebudayaan yang datang,sehingga dapat dicapai ciptaan baru yang unik yang terdapat dalam wilayah bangsa yang membawa kebudayaan tersebut.

Interaksi Islam dengan budaya lokal dapat dianalisa dalam konteks sosiohistoris, seperti yang terjadi dalam pola penyebaran Islam kekawasan nusantara. Dalam kaitan ini dapat dibedakan menjadi tiga pola penyebaran dan pembentukan formasi Islam yang terjadi pada berbagai daerah di Asia tenggara. Pola pertama berdasarkan pengalaman pasai (pola pasai). Dalam pola ini Islam tumbuh bersama-sama dengan perkembangan pusat kekuasaan negara dan Islam menjadi landasan sosial politik negara.

Pola kedua dirumuskan berdasarkan kasus Malaka, Patani, Gowa – Tallo, dan Ternate yang disebut sebagai pola “Malaka”. Pada pola ini, penyebaran dan penerimaan Islam melalui kekuatan Magis atau yang lainnya terjadi melalui konversi pusat kekuasaan lokal kedalam kekuasaan Islam.

Pola ketiga adalah pola Jawa. Pada pola ini penyebaran Islam terjadi melalui penaklukan pusat kekuasaan lokal (Majapahit) oleh Islam (Demak). Termasuk kalahnya Kerajaan Sriwijaya (Budha) di Sumatra Selatan oleh Demak (Islam).

Selain itu ada juga istilah penyebaran dan pembentukan Agama Islam di Asia Tenggara. Termasuk di dunia dengan dua pola baru yaitu pola integratif dan pola dialog. Pola integratif (Pasai dan Malaka), yaitu Islam menjalani pembumian dan Islam sebagai landasan masyarakat, budaya, dan kehidupan pribadi. Sedangkan, pola Jawa (pola dialog) muncul suatu tipe tradisi tertentu (tradisi dialog lokal dan Islam). Tradisi ini adalah arena tempat pengertian kontinuisitas dan dorongan ke arah perubahan sistem sosial budaya yang harus menemukan lapangan bersama (Islam dan budaya lokal). Pola dialog ini akan menghasilkan konflik dan harmonis.
Konflik berarti Islam dan budaya lokal tidak membentuk sebuah hubungan yang serasi dan statis. Sedangkan, harmonis berarti Islam dan budaya lokal membentuk sebuah hubungan yang serasi dan dinamis sehingga melahirkan tradisi Islam bercitra lokal

Proses pembentukan dan pembumian Islam sekaligus hubungan yang serasi dengan buday lokal berupa akomodasi: upacara ritual 4 bulan (ngupati), 7 bulan (dalam kandungan), 7 hari, 40 hari, dan 100 hari 1000 hari (mendak) dari kematian; Interaksi yang menghasilkan asimilasi adalah ritual perkawinan, akokah, khitanan, dan sebagainya (syariat Islam); Kompromitas yaitu adaptasi, akomodasi, asimilasi hingga integrasi (bergeser dari budaya ke syariat Islam); Interaksi sampai terjadi proses dialektif (benturan antara Islam dan budaya lokal ) dalam suatu wilayah penyebaran Islam.

Atas dasar pijakan tersebut dapat disimpulkan bahwa secara teoritis, pola penyebaran dan pembentukan formasi Islam terjadi pada dua pola. Yaitu pola integartif dan pola dialog. Pola integratif diwakili pola penyebaran Islam yang pertama (pola pasai) dan kedua (pola Malaka). Pola pertama dan kedua ini menunjukkan suatu kecenderungan kearah pembentukan tradisi yang bercorak integratif. Inilah tradisi dimana Islam mengalami proses pembumian secara konseptual dan struktual. Sehingga dalam kasus ini Islam menjadi bagian intrinsik dari sistem kebudayaan secara keseluruhan. Islam dipandang sebagai landasan masyarakat, budaya, dan kehidupan pribadi.

Dalam tradisi ini, Islam menjadi bagian yang dominan dalam komunitas kognitif yang baru maupun dalam paradigma politik yang dipakai sebagai pengukuran apa yang disebut sebagai pola dialog. Dalam proses ini pula muncul suatu tipe tradisi tertentu (tradisi dialog). Tradisi ini adalah arena tempat pengertian kontinuitas dan dorongan ke arah perubahan sistem sosial budaya yang harus menemukan lapangan bersama.

Pola penyebaran Islam pada batas-batas tertentu mengandung beberapa kelemahan. Pola Jawa disebut sebagai pola penaklukan Demak atas Majapahit. Dalam kasus ini mengabaikan kenyataan, bahwa Demak Islam melalui proses penuh damai. Sebaliknya, pola Pasai disebut sebagai damai justru dapat dikatakan sebagai pola penaklukan.

Hasil akhir dari proses formasi sosial Islam berujung pada dua pola. Yaitu pola integrasi dan pola dialog. Dua pola ini terlalu inklusif dan kurang mengakomodasi variasi yang terjadi dalam masing-masing kategori. Pola yang pertama tidak atau kurang dapat menjelaskan tiga varian pola interkasi antara Islam dan sistem lokal yang secara” harmonis” antara Islam dan masyarakat lokal. Kemudian, pola dialog yang pada tingkat latent atau manifest ditandai oleh konflik yang mendasar antara Islam dan masyarakat lokal.

Berdasarkan semua itu dapat disebutkan empat pola pembentukan formasi sosial Islam yang mungkin terjadi dalam proses interaksi antara Islam dengan budaya lokal. Pola yang pertama dan kedua merupakan dua varian pola intergratif yang disebut pola Islamisasi. Sedangkan yang kedua disebut sebagai pola pribumisasi. Pola ketiga dan keempat merupakan varian-varian dari pola dialog yang masing-masing disebut sebagai pola negoisasi dan pola konflik.

Realitas agama Islam di dunia umumnya ,khususnya Asia Tenggara termasuk di Indonesia yang didasarkan pada suatu asumsi bahwa agama (Islam) berhubungan dalam suatu komunitas akan selalu unik. Karena, adanya akulturasi dengan budaya setempat (lokal) dalam pengertian bahwa religi tersebut membentuk sistem tersendiri berbeda dengan sistem dan cara yang terdapat pada masyarakat Islam lain. Kendati boleh jadi masing-masing komunitas memeluk agama yang sama, setiap daerah mempunyai sistem dan cara tersendiri serta mempunyai kekhasan keislamannya.

Pergimulan Islam dengan khazanah lokal menjadikan Islam begitu multiwajah. Ketika ia menjumpai varian kultur lokal, maka yang segera berlangsung ialah aneka proses simbiose yang saling memperkaya. Munculnya berbagai varian Islam: Islam-Jawa, Islam-Sasak, Islam-Melayu, Islam-Madura, Islam-Pesisir, Islam-Poliwali, Islam-Ambon, Islam-Padang, Islam-Banjar, Islam-Bima, dan seterusnya menggambarkan Islam selalu memiliki warna lokal ketika menghampiri sebuah komunitas. Demikian juga ada Islam-Arab-Islam-Iran, Islam-Cina, Islam-Amerika, Islam India, Islam-Indonesia dan sebagainya yang masing-masing memiliki bangunan kebenaran sendiri-sendiri.

Dalam konteks Indonesia, lahirnya KHI (Kompilasi Hukum Islam) yang juga di dalamnya diadopsi sistem gono gini merupakan dialektika hukum Islam dengan tradisi yang berkembang di Indonesia. Ini merupakan cita-cita lama dari para pemikir hukum Islam di Indonesia yang menginginkan adanya fikih yang berkepribadian Indonesia.

Fenomena yang disebut terakhir ini menunjukkan bahwa fikih Islam adalah hukum yang hidup dan berkembang yang mampu bergumul dengan persoalan-persoalan lokal yang senantiasa meminta etik dan paradigma baru. Keluasan hukum Islam adalah satu bukti adanya ruang gerak dinamis itu. Ia merupakan implementasi objektif dari doktrin Islam yang meskipun berdiri di atas kebenaran mutlak dan kokoh, juga memiliki ruang gerak dinamis bagi perkembangan, pembaharuan, dan kehidupan sesuai dengan fleksibilitas ruang dan waktu.

Besarnya adanya akulturasi timbal balik antara Islam dan budaya lokal diakui juga dalam suatu kaedah atau ketentuan dasar dalam ilmu ushul al-fiqh bahwa adat itu dihukumkan (al ‘adah muhakkamah), atau lebih lengkapnya, adat adalah syariat yang dihukumkan (al-‘adah syariah muhakkamah). Artinya, adat dan kebiasaan suatu masyarakat yaitu budaya lokal adalah sumber hukum dalam Islam.

Islam sebagai agama yang universal yang melintasi batas waktu kadang kala bertemu dengan tradisi lokal yang berbeda-beda. Ketika Islam bertemu dengan tradisi lokal, wajah Islam berbeda dari tempat satu dengan lainnya. Menyikapi masalah ini ada dua hal yang penting disadari. Pertama, Islam itu sebenarnya lahir sebagai produk lokal yang kemudian diuniversalisasikan dan ditrandensi sehingga menjadi universal. Dalam konteks Arab, yang dimaksud dengan Islam sebagai produk lokal adalah Islam yang lahir di Arab, tepatnya daerah hijaz, dalam situasi Arab dan pada waktu itu ditujukan sebagai jawaban terhadap persoalan-persoalan yang berkembang di sana. Islam Arab tersebut terus berkembang ketika bertemu dengan budaya dan peradaban Persia dan Yunani. Sehingga kemudian Islam mengalami proses dinamisasi kebudayaan dan peradaban.

Kedua, walaupun kita yakin bahwa Islam itu wahyu Tuhan yang universal, yang gaib, namun akhirnya ia dipersepsi oleh si pemeluk sesuai pengalaman, problem, kapasitas, intelektual, sistem budaya, dan segala keragaman masing-masing pemeluk dalam komunitasnya. Dengan demikian, memang justru kedua dimensi ini perlu disadari yang di satu sisi Islam sebagai universal, sebagai kritik terhadap budaya lokal, dan kemudian budaya lokal sebagai bentuk kearifan (local Wisdom) masing-masing pemeluk di dalamnya memahami dan menerapkan Islam itu.

Berkaitan itu ada istilah adanya Islam universal dan Islam lokal. Ajaran tentang tauhid (pengesaan Tuhan) adalah universal yang harus menembus batas-batas geografis dan kultural yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Sementara itu, ekspresi kebudayaan dalam bentuk tradisi, cara berpakaian, arsitektur, sastra dan lain-lain memiliki muatan lokal yang tidak selalu sama setiap daerah kendati sama-sama beragama Islam.

Studi etnografi belakangan ini menjadi kontemporer (post modern). Ini menunjukan perkembangan yang menggairahkan. Pendekatan etnografis dalam melekat fakta-fakta sosial budaya dan keagamaan suatu masyarakat yang begitu beragam dan masing-masing memperlihatkan orisinalitas yang khas, jelas menginspirasi suatu gejala baru, yakni gejala bangkitnya suara yang diam ke permukaan setelah sekian lama terpendam, mengalami marjinalisasi, keterbelakangan, primitif, ketinggalan, dan masih setumpuk tudingan yang mendiskreditkan bahwa kebudayaan lokal, tradisi local, dan agama lokal dioanggap sebagai entitas sosial budaya yang terbelakang, kumuh, tidak rasional, cermin kebodohan yang tidak memiliki visi kemajuan dan tidak ada evaluatif atau perubahan.

Pandangan sebagaimana di atas sebenarnya juga telah dikritik sebagai bias modernisme. Peradaban modern yang mengklaim diri sebagai ilmiah dan universal sebenarnya memiliki watak penetratif dalam dirinya. Universalisme adalah kebenaran yang dinilai paling rasional sehingga perlu melakukan penyelamatan terhadap manusia dari peradaban lumpur itu. Akibatnya banyak hal yang dilakukan atas nama kemajuan dan modernitas justru membenamkan manusia dalam kondisi ketimpangan, pengingkaran hak-hak asasi manusia dan alienasi.

Begitu halnya yang terjadi dengan agama dunia dan agama tradisional. Sebagai contoh agama Sasak atau lebih spesifik lagi Islam Aasak merupakan cermin dari pergulatan agama lokal atau tradisional itu berhadapan dengan agama dunia yang universal. Seperti yang terjadi di Bayan Lombok, Islam Wetu Telu (Islam Lokal) yang banyak dipeluk penduduk Sasak asli dianggap sebagai tata cara keagamaan Islam yang salah (bahkan cenderung syirik). Oleh kalangan Islam Waktu Lima, sebuah varian Islam universal yang dibawa orang-orang dari daerah daerah lain di Lombok, tak pelak, Islam Waktu Lima sejak awal kehadirannya disengaja untuk melakukan misi atau dakwah Islamiyah terhadap kalangan Wetu Telu.

Secara sederhana barangkali dapat dikatakan bahwa Wetu Telu merupakan sejenis Islam yang dijalankan dengan tradisi-tradisi lokal dan adat Sasak. Varian Islam ini lebih mirip dengan Islam abangan atau Islam Jawa di Jawa. Seperti dalam agama Wetu Telu, yang paling menonjol dan sentral adalah pengetahuan tentang lokal, tentang adat, bukan pengetahuan tentang Islam sebagai rumusan ajaran yang datang dari negeri Arab. Akan tetapi juga bukan tidak menggunakan Islam sama sekali. Dalam soal doa-doa, tempat peribadatan masjid dan beberapa praktik ibadah lain merupakan introduksi keislaman mereka. Disebut Wetu Telu, menurut penganutnya, bukanlah berarti waktu (wetu) tiga (telu), melainkan bermakna tiga kemunculan hidup (metu telu): melahirkan (menganak), bertelur (menteluk) dan bertumbuh dari biji (mentiuk).

Kalau kita berbicara Waktu Telu, bukan agamanya yang dimaksud di sini, tetapi manusianya. Manusianyalah yang Waktu Telu karena manusia hidup di tiga dunia. Pertama, di alam nur yang dimulai dari alam roh sampai alam kandungan. Kedua, alam dunia yang dimulai sejak manusia lahir dari rahim ibu sampai ia dikuburkan. Ketiga, alam kubur dan alam akhirat ”.

Bagi Imam Malik, Amal ahli Madinah (kebiasaan penduduk Madinah) ini lebih kuat dari hadis Ahad (transmisi tunggal). “Al-‘amal atsbat min al-hadits”, katanya. Pendirian Imam Malik yang menghargai tradisi lokal Madinah tersebut terus dipertahankan meski harus berhadapan dangan rezim yang berkuasa. Pada suatu saat, Khalifah Abbasiyah Abu Ja’far al-Manshur memintanya agar kitab Muwattha yang menghimpun hadis-hadis Nabi karyanya dijadikan sumber hukum positif yang akan diberlakukan di seluruh wilayah Islam. Imam Malik menolak, katanya, ’’Anda tahu bahwa di berbagai wilayah negeri ini telah berkembang berbagi tradisi hukum sesuai tuntutan kemaslahatan setempat. Biarkan masyarakat memilih sendiri panutannya. (*)

Tidak ada komentar: