Selasa, 18 Agustus 2009

PANJAT PINANG DAN KOLONIALISME


Foto Lampost 19 Agustus 2008

Fandy Hutari
Penulis sejarah, tinggal di Jakarta

Setiap tanggal 17 Agustus, di kampung-kampung dan kota-kota di seluruh pelosok Tanah Air digelar berbagai acara sebagai ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan negeri ini. Perlombaan-perlombaan olahraga dan permainan-permainan hiburan selalu menjadi bagian dari peringatan kemerdekaan. Salah satu permainan yang digelar adalah panjat pinang. Permainan panjat pinang identik dengan perayaan peringatan hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus. Setiap peringatan 17 Agustus-an pasti kita menjumpai permainan ini.

Panjat pinang memang permainan yang tergolong seru. Permainannya sederhana. Peserta, yang biasanya terbagi atas beberapa regu, harus memanjat pohon pinang setinggi 5 sampai 7 meter yang sudah dilumuri oli atau gemuk. Di puncak pohon pinang telah menunggu berbagai hadiah yang mereka perebutkan. Pertanyaannya sekarang, dari manakah permainan ini berasal?

Warisan Kolonial

Sebuah informasi menyebutkan bahwa panjat pinang lekat dengan budaya Tionghoa. Informasi ini disebutkan oleh pengamat sejarah dan budayawan yang aktif di beberapa mailing list Tionghoa, Rianto Jiang. Ia menyebutkan dalam khazanah kebudayaan Tionghoa, panjat pinang populer di Tiongkok Selatan, terutama daerah Fukien, Guangdong, dan Taiwan. Acara ini berkaitan dengan Festival Hantu. Permainan ini tercatat pertama kali pada zaman Ming, dan lazim disebut qiang gu.

Pada zaman Qing, panjat pinang dilarang pemerintah, karena banyak menimbulkan jatuhnya korban jiwa. Saat Taiwan berada di bawah pendudukan Jepang, panjat pinang kembali dipraktekkan lagi di beberapa tempat berkaitan dengan Festival Hantu. Permainannya mirip seperti yang kita kenal sekarang. Namun bedanya, tinggi yang harus dipanjat bukan hanya setinggi pohon pinang, tapi berupa satu bangunan dari pohon pinang dan kayu lain yang setara dengan gedung bertingkat 4. Untuk menjadi juara, setiap regu harus memanjat sampai puncak untuk menurunkan gulungan merah yang dikaitkan di sana. Mungkin saja, terjadi asimilasi antara kebudayaan kita dan kebudayaan Tionghoa, sehingga kita mengenal permainan panjat pinang.

Dari beberapa catatan, panjat pinang mulai dikenal di Indonesia ketika zaman kolonial Belanda. Sebelum Indonesia merdeka, sekitar tahun 1930-an, permainan ini kerap digelar orang-orang Belanda saat mereka mengadakan hajatan, seperti pernikahan, kenaikan jabatan, atau pesta ulang tahun. Lazimnya hadiahnya berupa makanan, seperti keju dan gula. Ada juga berupa kaos atau kemeja. Bagi orang-orang pribumi, hadiah-hadiah tersebut tergolong mewah.

Para lelaki pribumi harus saling injak, bahu-membahu membentuk "tangga hidup" untuk menjangkau pucuk pohon pinang yang licin berlumur oli. Perlombaan memanjat pohon pinang pada masa ini hanya diikuti oleh orang-orang pribumi. Sedangkan orang-orang Belanda cuma tertawa-tawa menyaksikan orang pribumi mati-matian memanjat pohon pinang. Panjat pinang biasa juga diadakan oleh keluarga pribumi kaya-raya, antek kolonial.

Makna Filosofis

Dari perjalanan sejarahnya ini, keberadaan panjat pinang menjadi kontroversial. Beberapa kalangan menilai jika dilihat dari sejarahnya, lebih baik lomba panjat pinang dihentikan saja karena mencenderai nilai-nilai kemanusiaan. Mereka beranggapan bahwa panjat pinang hanyalah suatu kejahilan penjajah saja terhadap pribumi. Tujuan mereka tentu saja mendapat hiburan dan melepas tawa. Namun sebaliknya, bagi pendukung panjat pinang, mereka justru melihat bahwa permainan ini mengajarkan kerja keras, belajar bekerja sama, dan mengutamakan kekompakan.

Terlepas dari sejarahnya, saya sendiri melihat bahwa panjat pinang punya makna filosofis tersendiri. Jika hadiah diibaratkan sebuah "kemerdekaan", maka panjat pinang punya makna filosofis yang mendalam. Pertama, kita diajarkan berjuang dan bekerja sama untuk mencapai kemerdekaan. Kedua, dalam satu regu yang bekerja sama, diperlukan kecerdikan masing-masing, seperti menopang peserta yang berat badannya lebih ringan.

Ketiga, menyingkirkan ego pribadi untuk menggapai "kemerdekaan". Keempat, hasil kemerdekaan (hadiah) dibagi rata satu regu. Tapi, namanya juga hiburan, kontroversi tak lagi penting, yang penting bisa menghibur. Dan yang paling penting lagi adalah memaknai hari kemerdekaan kita bukan saja dengan perlombaan tapi dengan wujud nyata kepada bangsa. Selamat hari ulang tahun Republik Indonesia!

Lampost 18 Agustus 2009

1 komentar:

Fandy Hutari mengatakan...

salam kenal pak.terima kasih telah menyebar artikel saya.kunjungi blog saya ya www.sandiwaradanperang.blogspot.com