Jumat, 19 Juni 2009

PESANTREN AZ- ZAYTUN


Membangun Monumen Milenium Ketiga
Friday, 20 July 2007 09:55 Redaksi


Pada bagian keempat kilas balik menyongsong sewindu Al-Zaytun, 27 Agustus 1999-27 Agustus 2007, kami menyajikan bagaimana sistem manajemen Al-Zaytun membangun prasarana dan sarana yang benar-benar mengubah paradigma berpikir khalayak ramai dari anggapan bahwa pesantren itu kumuh menjadi pesantren itu bersih, megah, gagah dan modern. Segagah sejarah pesantren yang mampu bertahan melintasi berbagai tantangan dari sejak beberapa abad lalu hingga kini. Bahkan tidak berlebihan bila disebut, Al-Zaytun tengah membangun monumen milenium ketiga.
Gaya arsitektur bernilai estetika universal, yang di Al-Zaytun disebut sebagai gaya arsitektur rahmatan lil alamin

Semua bangunan gedung di pondok pesantren modern komprehensif (kampus) ini bukan hanya bersih, megah dan gagah untuk sesaat, melainkan dibangun berdaya tahan lebih lima ratusan tahun bahkan bisa puluhan abad, setara bangunan-bangunan monumental di dunia, yang sudah mengukir sejarah pada zamannya.
Gaya arsitekturnya pun merupakan perpaduan menyeluruh dari semua gaya arsitektur yang ada di dunia ini, gaya arsitektur bernilai estetika universal, yang di Al-Zaytun disebut sebagai gaya arsitektur rahmatan lil alamin.
Pendek kata, Al-Zaytun dibangun sebagai sebuah kawasan pendidikan terpadu yang monumental dalam abad 21 ini. Hingga kelak, sampai ratusan tahun dan berabad-abad ke depan, Al-Zaytun akan dicatat sejarah menjadi sebuah monumen fenomenal milenium ketiga. Diyakini, kelak, bagi generasi berikutnya, monumen ini akan bernilai sejarah setara dengan bangunan-bangunan monumental dunia yang sudah tercatat dalam sejarah zamannya masing-masing.

Seperti, bangunan monumental Islam kompleks Masjid Cordoba, Istana Al-Hamra dan Medinat az-Zahra di Spanyol. Juga bangunan-bangunan monumental Romawi, Mesir, Dinasti Cina klasik, kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha yang bersejarah dan mampu bertahan ratusan sampai ribuan tahun. Setiap bangunan yang didirikan di Al-Zaytun, diprogram harus memenuhi persyaratan pokok yakni berdaya tahan lama, aman untuk difungsikan sesuai hajat Al-Zaytun.

Setiap bangunan itu harus cukup kuat dan berkemampuan memikul pembebanan yang terjadi baik pembebanan vertikal maupun horizontal dalam jangka waktu lama. Kekuatan itu dirancang dengan penggunaan kekuatan elemen-elemen (material) konstruksi berkualitas dan proses pengerjaan yang telaten dan cerdas.
Dalam hal sistem kontrol mutu bangunan dilakukan dengan sistem pengendalian sumber daya yang disebut BMW, singkatan dari biaya, mutu dan waktu. Semua dikontrol sejak awal, baik mutu manusia, mutu bahan bangunan maupun mutu peralatan bangunannya.
Salah satu hal yang amat menarik dalam proses dan sistem pembangunan di Al-Zaytun bahwa semua dilakukan oleh tenaga profesional sendiri yang teruji handal dan memegang prinsip ibadah, akhlak dan amanah. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pemeliharaan berada dalam satu manajemen internal yang terpadu dan terkendali tanpa batas waktu, 24 jam setiap harinya.

Dengan manajemen pembangunan seperti ini, bukan saja kualitas bangunannya yang bisa dijamin, juga soal pembiayaannya yang jauh lebih rendah, 1 : 3. Artinya, pembiayaannya hanya 1/3 dari biaya jika dikerjakan secara konvensional. Maklum, di Al-Zaytun selain tidak ada birokrasi yang panjang dan berbelit, juga dijamin tidak ada korupsi.

Arsitektur pembangunan Al-Zaytun dipimpin langsung Syaykh AS Panji Gumilang
Sistem manajemen dan proses pembangunan di Al-Zaytun tidaklah asal ada dan asal jadi. Sejak awal Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) telah merencanakannya sedemikian matang. Kemudian dibentuk tim pelaksana pembangunan pada pertengahan Mei 1995. Tim pembangunan itu menerima amanah untuk bertugas dan bertanggung jawab mewujudkan bangunan-bangunan yang dihajatkan sebagaimana telah direncanakan dalam bentuk master plan Kampus Al-Zaytun. Master plan itu ditetapkan bersama di bawah pimpinan Syaykh AS Panji Gumilang, selaku grand architect-nya.

Kemudian, dalam perkembangan berikutnya, untuk memperkuat perencanaan, termasuk bidang arsitektur, Tim Al-Zaytun yang langsung dipimpin oleh Syaykh AS Panji Gumilang, dengan anggota tim M Natsir Abdul Qadir, M Yusuf Rasyidi dan Ir Bambang Abdul Syukur, melakukan studi banding ke Eropa, khususnya ke Andalusia.
Studi banding ini, selain menyangkut hal yang berkaitan dengan masalah pendidikan pada umumnya, juga secara khusus menelusuri lengkung-lengkung arsitektur dunia yang mengundang kekaguman umat manusia sampai ratusan tahun.

Kunjungan itu telah pula memperluas wawasan dan memompakan spirit yang lebih besar serta meresapkan sentuhan-sentuhan keindahan karya-karya besar arsitektur klasik dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kampus ini. Semua masukan itu memberi kekayaan ide arsitektur bernilai karsa dan estetika tinggi dan universal dalam rancang bangun gedung-gedung di Al-Zaytun, terutama rancang bangun Masjid Rahmatan lil Alamin.


Maka jika mengamati seluruh konstruksi dan arsitektur bangunan di kampus ini, terutama rancang bangun dan arsitektur Masjid Rahmatan lil Alamin, tak berlebihan bila perencana dan arsitek Al-Zaytun dapat disejajarkan dengan arsitek Abbasiyah yang membangun kompleks Masjid Cordoba, Istana Al-Hamra dan Medinat az-Zahra di Spanyol. Atau Salman al-Farisi yang merancang pembuatan khandaq (parit) yang mengelilingi kota Madinah.

Sebagaimana karya arsitek Abbasiyah dan Salman al-Farisi yang dicatat dalam sejarah zamannya masing-masing, begitu pula karya tim perancang pembangunan Al-Zaytun ini kelak pantas dicatat sejarah zamannya yang membangun bangunan-bangunan monumental yang kelak menjadi bukti sejarah kebangkitan Islam dan kebangkitan bangsa ini.
Sistem Manajemen

Sistem manajemen pembangunan Al-Zaytun pantas dijadikan sebagai panutan bagi siapa saja pelaksana pembangunan di negeri ini. Sehingga pembangunan di negeri ini bisa terlaksana dengan baik, efisien, efektif dan berkualitas, serta terbebas dari korupsi.

Tahapan pembangunan proyek mulai dari perencanaan hingga pemeliharaan berada dalam satu manajemen
Semua proses pembangunan prasarana dan sarana di Al-Zaytun bermula dan berpedoman pada master plan yang telah ditetapkan bersama di bawah pimpinan Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang. Kebersamaan atau team work adalah hal yang menonjol dan mutlak di kampus ini. Team work yang taat pada suatu sistem dengan segala pranatanya mulai dari yang tertinggi sampai terendah.

Semua eksponen, termasuk karyawan pembangunan, sangat menyadari dan memahami bahwa keberadaannya dalam suatu tim kerja adalah untuk ibadah kepada Allah, dan sepatutnya berakhlakul karimah baik kepada pimpinan, sahabat, bawahan maupun juga terhadap material dan peralatan pembangunan serta terhadap waktu. Di bawah pimpinan Syaykh Panji Gumilang, yang bijak dan kebapakan, setiap eksponen memahami fungsi dirinya masing-masing dalam tugas dan tanggung jawabnya terhadap amanah yang diberikan kepadanya.

Sistem manajemen yang diterapkan tidak sekadar sistem manajemen modern yang sudah teruji ampuh di tempat lain, melainkan lebih dari pada itu, sistem manajemen yang dinaungi dan dibekali kedalaman iman dan taqwa. Sistem nanajemen yang berpegang pada ibadah, akhlak dan amanah. Manajemen Ilahiyah yang bermakna manajemen tauhid atau manajemen terpadu dalam satu kesatuan sistem. Tahapan-tahapan pembangunan proyek mulai dari perencanaan hingga pemeliharaan berada dalam satu manajemen terpadu dan terkendali.

Dalam sistem manajemen demikian itu, Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) sebagai induk organisasi Al-Zaytun, pertama kali membentuk tim pelaksana pembangunan pada pertengahan Mei tahun 1995. Tim inilah sebagai penerima amanah yang bertugas dan bertanggung jawab mewujudkan bangunan-bangunan yang direncanakan dalam master plan Al-Zaytun yang telah ditetapkan bersama di bawah pimpinan Syaykh Al-Zaytun.
Kemudian dibentuk Tim Pelaksana Pembangunan yang disebut sebagai Tim Tanmiyah. Tim Tanmiyah ini dipimpin oleh seorang ahli beranggotakan delapan tim pembangunan, terdiri dari arsitek, teknik sipil, mekanik dan kelistrikan serta dilengkapi beberapa penanggung jawab kepersonaliaan. Sementara untuk pelaksana di lapangan ditunjuk beberapa insinyur muda, mendukung tim inti yang juga turun ke lapangan sesuai keperluannya.

Tim Tanmiyah ini bekerja secara terpadu dan terkendali selama 24 jam setiap hari, mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pemeliharaan. Dengan sistem manajemen terpadu 24 jam ini, maka setiap instruksi tertangani secara cepat dan tepat. Selama 24 jam para karyawan mencurahkan tenaga mereka untuk menyempurnakan azam umat: sesuai maklumat Al-Zaytun membangun monumen umat Islam yang akan dihadiahkan untuk umat Islam sedunia. (Majalah Al-Zaytun Edisi 11 hlm.16).

Pertama kali, Ir Djamal M Abdat, ditetapkan sebagai Rois ‘am Tim Tanmiyah, dan dianggotai oleh Ir Asrur Rifa, Ir Bambang A Syukur, Ir Abdurrahman, Ir A Hanif dan Ir Armand AR dan dilengkapi personalia terdiri dari Abbas Ali Nasution selaku koordinator bersama Usman Azhari dan Rahmat Ramadhan.

Tenaga-tenaga profesional yang tergabung dalam tim pembangunan ini mengerjakan sendiri semua pekerjaan. Sejak awal antara konsultan dan kontraktor dibuat menyatu. Tidak dikenal main contractor dan subkontraktor. Dengan sistem manajemen pembangunan seperti itu, banyak mata rantai yang diputus, sehingga tidak perlu mengeluarkan uang yang tidak seharusnya dibelanjakan. Semuanya dikerjakan sendiri. Keperluan besi, misalnya, yang dibeli bahan baku, lalu dipabrikasi sendiri, di-erection sendiri.
Sistem seperti ini terbukti mempunyai banyak keunggulan dan keuntungan dibandingkan dengan sistem proyek pembangunan yang lazim di luar Al-Zaytun. Selain untuk menghemat biaya juga menjaga mutu. Dicontohkan, untuk bangunan seperti Gedung Abu Bakar, biayanya hanya 1/3 dari biaya bangunan jika itu dikerjakan oleh kontraktor luar.

Juga unggul dari segi efisiensi waktu. Contohnya, ketika merencanakan Masjid Al-Hayat hanya membutuhkan waktu satu pekan, pelaksanaan pembangunannya pun hanya 100 hari. Bandingkan dengan kebiasaan di tempat lain, untuk perencanaan bangunan saja paling tidak membutuhkan waktu dua kali dari lama pelaksanaan pembangunan bangunan itu sendiri.

Dengan penghematan itu, dana bisa dipergunakan untuk membeli bahan-bahan material yang berkualitas. Dalam hal ini, tanmiyah sangat selektif memilih bahan material. Sebagaimana dijelaskan oleh Djamal M Abdat, Rois ‘am Tanmiyah, yang bertanggung jawab terhadap pembangunan fisik secara keseluruhan, bahwa pihaknya tidak mau menggunakan bahan yang tidak berkualitas.

Dalam hal pengadaan material pun selalu dibeli dalam partai besar, sehingga biaya yang harus dikeluarkan menjadi lebih murah. Biasanya, pembelian tidak hanya untuk kebutuhan satu proyek bangunan. Sebab pembangunan di Al-Zaytun terus berlanjut sampai kebutuhannya tercakup. Kala itu direncanakan, setiap tahun harus ada bangunan yang jadi. Targetnya setiap tahun satu gedung pembelajaran dan satu gedung asrama harus selesai dibangun. Bahkan, Syaykh Al-Zaytun mengisyaratkan agar dalam satu tahun bisa terealisir tiga bangunan. Maka, tatkala membeli besi atau baja, atau material jenis lain, tidak pernah khawatir akan terbuang, pasti dimanfaatkan.
Selain itu, yang juga membuat murah, semua bahan-bahan dibeli dalam bentuk bahan baku. Bahan baku atau bahan mentah itu kemudian diolah kembali oleh karyawan-karyawan Al-Zaytun yang memang sudah berpengalaman. Besi dan baja dipabrikasi sendiri, lalu erection juga dilakukan sendiri. Begitu pula untuk bahan-bahan perkayuan. Semua komponen bangunan seperti daun pintu, kusen, furniture dan khususnya isi bangunan (meja, kursi, papan tulis dan partisi) dikerjakan sendiri.
Dengan sistem manajemen seperti itu, setiap bangunan yang didirikan di Al-Zaytun memenuhi persyaratan pokok berdaya tahan lama. Setiap bangunan itu harus cukup kuat dan berkemampuan memikul beban dalam jangka waktu lama. Kekuatan itu dirancang dengan penggunaan kekuatan elemen-elemen (material) konstruksi berkualitas dan proses pengerjaan yang telaten dan cerdas.

Begitu pula dalam aplikasi gaya arsitektur, semuanya dipertimbangkan secara matang. Gaya itu harus punya nilai estetika universal, tidak cenderung kepada suatu etnik lokal atau antipati terhadap nilai-nilai estetika tertentu. Menurut Ir Bambang Abdul Syukur, arsitek tim tanmiyah, Syaykh Al-Zaytun selalu berpesan, tidak ada dikotomi arsitektur Islam, gothic atau tradisional.

Dalam hal sumber daya manusia, pada waktu proyek dimulai, hanya sembilan orang. Kemudian sesuai dengan kebutuhan pembangunan, tahun 2004 telah mencapai lebih 2.500 orang. Terbagi dalam 28 unit karyawan, masing-masing fungsinya berbeda.
Jumlah ini tidak statis tapi dinamis artinya bisa berubah sesuai kebutuhan. Bisa bertambah bisa berkurang. Jika pekerjaan di suatu unit sudah selesai maka karyawannya akan diperbantukan ke unit lain yang sedang mengejar target penyelesaian.
Seluruh karyawan tinggal di sekitar lokasi proyek. Setiap pagi mereka menerima amanah dari insinyur pelaksana. Malam hari, melakukan evaluasi tentang progres yang telah dicapai.

Sehingga setiap saat, semua pekerjaan menjadi terkontrol. Hampir tidak ada mandor yang harus berada di lokasi proyek setiap saat. Artinya, walaupun pimpinan unit sedang tidak ada di lokasi proyek, seluruh program harian tetap berjalan semestinya.
“Mandor mereka adalah Alquran, di tangan mereka alat kerja, di kantong mereka ada Alquran, minimal kitab Juz’ Amma”, kata Syaykh Panji Gumilang. Mungkin saat ini, sistem ini satu-satunya di Indonesia atau bahkan di dunia.

Setiap pekerja mendapat kesempatan untuk bekerja di semua unit. Dengan demikian semua karyawan diharapkan punya keahlian yang bermacam-macam. Suatu saat mereka mengaduk semen, pada saat lain mereka juga harus bisa mengemudikan dozer atau membuat furniture.

Besok bisa jadi tukang batu, lusa bisa di kantor memegang komputer. Jadi, harus di-rolling supaya hidup, tidak membosankan. Di sini setiap unit sama, tidak ada yang lebih tinggi atau rendah antara petugas yang mengecor, menyapu atau yang duduk di depan komputer. Semua nilainya sama, yang membedakan adalah ketakwaan.
Kualitas Bangunan

Kualitas bangunan juga dimulai dari perencanaan material. Kekuatan bangunan bergantung kepada kekuatan elemen-elemen (material) konstruksi bangunannya. Untuk bangunan yang diprogram akan bertahan berabad-abad, bahan-bahan dasarnya harus berkualitas. Dan untuk lebih menjamin kualitas bahan-bahan material itu, sejak awal dilakukan kontrol mutu, mulai dari pengadaannya sampai pemanfaatannya.
Material konstruksi yang digunakan meliputi material baja profil, baja tulangan dan material beton yakni campuran material semen, pasir, kerikil dan air. Material arsitektur meliputi material untuk lantai dan tangga seperti keramik, untuk dinding berupa batu, cat, kayu, kusen, kayu pintu, jendela dan kaca. Adapula material untuk plafond seperti tripleks, gypsum serta material atap berupa genteng dan alumunium. Material plumbing meliputi instalasi pipa-pipa air bersih dan air kotor, pipa hidrant, kran wastafel, kloset, dan lainnya. Dan untuk material elektrikal meliputi instalasi kabel-kabel, pipa-pipa listrik, dan lampu-lampu.

Untuk baja konstruksi, digunakan baja tulangan dan baja profil yang masih harus didatangkan dari Korea, Jepang, Polandia dan Rusia. Soalnya, ketika pernah dicoba menggunakan baja WF lokal hasilnya sangat tidak memuaskan, belum apa-apa sudah melengkung. Baja tulangan yang digunakan berdiameter mulai 6 mm hingga 32 mm. Sedangkan untuk baja profil menggunakan bentuk-bentuk seperti wide flange (sayap lebar) berdimensi tinggi 200 mm hingga 450 mm, Canal Cnp berdimensi tinggi mulai 75 mm hingga 150 mm, siku berukuran 30 mm hingga 100 mm dan juga plat baja berukuran tebal mulai 2 mm hingga 15 mm.

Sedangkan untuk kekuatan lantai bangunan digunakan pelat lantai beton bertulang dengan kualitas betonnya 300 kg per cm persegi. Pelat lantai tersebut dipikul oleh balok lantai dengan menggunakan baja profil sayap lebar (wide flange) dengan kekuatan tegangannya bernilai 4.100 kg per cm persegi.

Suatu hal yang patut dicatat bahwa semua pengadaan material adalah bahan baku. Kemudian diolah sendiri menjadi bahan material jadi. Keperluan besi, misalnya, yang dibeli bahan baku, lalu dipabrikasi sendiri dan di-erection sendiri. Dalam pabrikasi baja baik pemotongan, pengelasan maupun pelubangan (pons) dan rolling plat baja seluruhnya menggunakan teknologi Al-Zaytun sendiri. Teknologi pembesian memanfaatkan peralatan yang disebut bar cutter dan bar bending machine untuk memotong dan membengkokkan besi tulangan sesuai kebutuhan.

Semua itu dikerjakan sendiri oleh unit kerja pabrikasi yang bertanggung jawab mengenai konstruksi baja dan pembesian, dari mulai bahan baku sampai menjadi bahan yang siap dipasang menjadi konstruksi bangunan di Al-Zaytun. Untuk bisa memenuhi target yang diprogramkan oleh yayasan tepat waktu, sistem kerja yang diterapkan bagian pabrikasi berbeda dengan unit-unit yang lain yakni memberlakukan dua shift, bekerja 24 jam siang dan malam.

Di samping memberlakukan sistem kerja 24 jam, tenaga kerja unit pabrikasi pun mempunyai latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang pekerjaannya serta berpengalaman dalam pembesian sebelumnya.
Begitu pula dalam pemasangan konstruksi baja menggunakan alat power winch. Dalam pengeboran air menggunakan mesin bor sumur (drilling machine) pada submersible pump (pompa sumur dalam).

Dalam pelaksanaan pondasi pun diterapkan teknologi modern yang dioperasikan tenaga sendiri. Dimulai dengan penggalian tanah menggunakan excavator. Setelah itu tanah diangkut dengan dump truck ke suatu tempat. Selanjutnya tanah diratakan dengan dozer sebelum dilakukan pemadatan oleh vibrator hingga diperoleh daya dukung yang kuat. Pada saat pembetonan, tim memanfaatkan truck mixer untuk menuangkan beton siap pakai. Truk ini mengambil beton siap pakai tersebut dari batching plant (pembuatan beton masak) pembuat ready mix concrete yang juga dikerjakan sendiri di kompleks Al-Zaytun. Ch Robin Simanullang (Berita Indonesia 43)
Last Updated ( Saturday, 30 May 2009 12:33 )

6 komentar:

FACHRUDDIN M. DANI mengatakan...

Saya mohon maaf kepada sekitar belasan ribu pengunjung blog yang telah membuka posting tentang az-Zaitun karena jendela komentar selama ini tertutup.
Sekarang jendela telah terbuka, saya persilakan bagi anda yang ingin berkomentar.

FACHRUDDIN M. DANI mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.
FACHRUDDIN M. DANI mengatakan...

Az-Zaitun yang megah dan membanggakan itu, kini kembali diterpa fitnah. Keberadaan NII yang marak menjadi berita pada saat ini mengungkit kembali keterkaitan Az-Zaitun dengan NII. Walau selalu dibantah oleh Az-Zaitun.

Selaku ummat Islam yang mendamba sekolah Islam yang berkualitas, saya berharap fitnah ini kembali dapat diselesaikan dengan baik baik. Tampa harus mengorbankan proses pembelajaran dan eksisitensi Pondok pesantren Az-Zaitun.

FACHRUDDIN M. DANI mengatakan...

Acara dialog Jakarta Lawyer Club TV One yang disiarkan secara langsung membuka secara terang benderang tentang siapa Panji Gumilang dan apa hubungannya dengan NII.
Acara itu menghadirkan Imam Supryantono, seorang sahabat Panji Gumilang yang mengundurkan diri dari NII, tetapi tetap bertahan di lembaga pendidikan Azzaitun, namun akhirnya ditendanbg juga. Imam hanya memberitahukan ketidak sepahamannya dengan Panji Gumilang, tetapi tidak menceritakan hal hal yang dianggap keliru Oleh Panji Gumilang.
Belakangan diketahui bahwa Imam mengadukan Panji Gumilang ke pihak kepolisian, prihal dikeluarkannya Dia dari Yayasan Az-Zaitun.

everything mengatakan...

assalamualaikum....
cuma sekedar tanya ,Bagaimana sistem di pondok az-zaytun kemudian berapa harga jika masuk ke pondok tersebut biaya masuk sekaligus biaya per bulannya.apakah benar jika ada pengunjung yang ingin bertamu harus menyerahkan KTP mereka dan juga membayar untuk masuk layaknya taman wisata....?terima kasih
wassalamualaikum

FACHRUDDIN M. DANI mengatakan...

Masalah biaya bisa ditanyakan langsung melalui Web resmi milik Az-Zaitun di Indramayu atau perwakilan resmi mereka di masing masing daerah.
Kalau masalah KTP sih itu wajar wajar saja karena dikomplek itu ada puluhan ribu sisiwa di sana, jadi yang datang harus memiliki identitas yang jelas.
Saya dulu datang ke sana nyumbang 2 zak semen (diuangkan), tetapi saya diberi makan gratis di restoran mereka. Trims.