Minggu, 28 Juni 2009

PECINTA BUDAYA JEPANG

Rengo Sekai, Kumpulannya Pecinta Jepang Lampung

MEMPELAJARI budaya bangsa lain dapat menumbuhkan semangat nasionalisme terhadap budaya sendiri dan dapat mengambil manfaatnya. Seperti sekelompok anak muda pecinta budaya Jepang di Bandar Lampung yang terkumpul dalam komunitas Rengo Sekai.

Rengo Sekai ini terbentuk pada 1 Januari 2009. Menurut Ziey, salah satu penggagas Rengo Sekai, ia dan teman-temannya pernah membentuk Jepang Lampung Club (JLC) yang kemudian bubar karena suatu alasan. Lalu kemudian membentuk lagi wadah bernama Rengo Sekai.

Menurut Ziey, di dalam Rengo Sekai ini terdapat beberapa divisi, seperti divisi musik, cosplay, dan kultur. "Untuk divisi musik, kami saat ini sudah mempunyai band sendiri yang bernama Tokyo Shinju. Sedangkan untuk kultur, kami lebih fokus ke pembelajaran terhadap budaya Jepang, seperti upacara minum teh, teater tradisional (kabuki), dan manga," ucap Ziey didampingi Ketua Rengo Sekai Uki.

"Untuk wilayah Bandar Lampung sendiri, Rengo Sekai bisa dibilang seperti KONI-nya. Mewadahi komunitas-komunitas pencinta budaya Jepang di Bandar Lampung seperti AHC dan Gothic Shinobi," kata dia.

Ziey mengatakan ketertarikannya terhadap segala hal yang berhubungan dengan Jepang bermula saat ia membaca sebuah manga (komik) yang berjudul Kabuki. Kemudian pekerjaan yang digelutinya sebagai penyiar radio yang membawakan program acara lagu-lagu Asia juga ikut menumbuhkan kecintaannya terhadap Jepang.

Sedangkan Uki menyeritakan minatnya terhadap Jepang dimulai dari film-film kartun yang ia tonton saat kecil seperti Doraemon. "Pertamanya sih penasaran, kok bisa bikin film kartun yang bagus seperti itu, lalu mulai cari-cari tahu, sampai akhirnya segala tentang Jepang saya suka," jelasnya.

Jumlah anggota aktif Rengo Sekai saat ini ada 25 orang. Mereka mengadakan pertemuan rutin seminggu sekali di Taman Budaya Lampung pukul 14.00. "Biasanya sharing antaranggota. Tukar info baru. Seperti minggu kemarin, salah seorang anggota memberitahu kami tentang robot Gundam yang berskala 1:1, alias ukuran sebenarnya," ujar Uki.

Menurut Uki, dalam pertemuan tersebut pun kerap dilakukan workshop-workshop dari setiap divisi, "Untuk sekarang ini khusus internal Rengo Sekai saja," ujarnya. Setiap divisi di Rengo Sekai tidak mempunyai struktur hierarki, tetapi ada satu orang yang menguasai divisi tersebut.

"Jadi, workshop-workshop yang dilakukan, seperti belajar menggambar manga atau upacara minum teh dipandu oleh anggota yang ahli di bidangnya. Beberapa anggota Rengo Sekai juga mengadakan acara masak kecil-kecilan, membuat onigiri atau nasi kepal khas Jepang."

Kegiatan eksternal yang pernah dilakukan Rengo Sekai, menurut Uki, antara lain Festival Japan Culture di Taman Budaya Lampung pada 28 Agustus 2008 lalu. "Yang terakhir, kami show off cosplay di Pusat Perdagangan Simpur Center pada 24 Mei lalu," tuturnya.

Cosplay adalah kegiatan meniru tokoh-tokoh manga atau anime dari Jepang, baik itu kostum ataupun gerakan-gerakannya. "Kalau dalam kontes cosplay biasanya dibagi tiga kategori, yaitu toku satsu (tokoh-tokoh heroik seperti Kesatria Baja Hitam, Sariban, dan lain-lain), original (kreasi sendiri), dan anime (tokoh-tokoh dari film kartun)," jelas Ziey.

Menurut Ziey, yang unik dari Jepang adalah anak-anak mudanya, "Mereka selalu berpikir terbuka. Contoh sederhananya adalah Bishonen," ujarnya. Bishonen adalah anak laki-laki yang berias diri. "Kalau di Jepang, hal tersebut wajar dan tidak dianggap aneh, malah keren dan biasanya banyak diincar para gadis, tetapi kalau di Indonesia bisa dibilang banci," kata dia sambil tertawa.

Uki dan Ziey mengatakan dengan mengikuti komunitas ini selain mengisi waktu senggang, juga menambah pengetahuan tentang budaya Jepang. "Kita jadi bisa berpikir, kenapa budaya Jepang bisa mengakar sedemikian kuat di masyarakatnya, khususnya anak muda. Semangat bushido ataupun kecintaan terhadap budaya sendiri. Kenapa Indonesia tidak seperti itu. Kita bisa mengambil pelajaran dari sana," kata mereka kompak.n MG13/L-1.