Jumat, 23 Januari 2015

Penangkapan Bambang Widjoyanto Bukti Buruknya Pilkada Langsung

Sangat terang dan jelas bahwa penangkapan Wakil Ketua KPK Bambang Wijayanto terkait dengan masalah tertundanya pelantikan Kapolri.itu sulit terpungkiri karena memang masyarakat semenjak terjadinya penetapan calon Kapolri menjkadi tersangka oeh KPK nampaknya akan berbuntut seperti ini, dan berdasarkan cerita Abraham Somad selaku Ketua KPK bahwa malam sebelumnya Bambang berucap kepada Abraham Samad bahwa malam ini katanya rasanya adalah malam terakhir bisa mendamping Abraham, deikian cerita Abraham Samad dengan isak haru yang tertahan.

Tetapi terus terang saya tidak berhasrat untuk mengulas banyak pristiwa ini, tetapi saya lebih tertarik dengan berbagai bukti betapa buruknya Pilkada bila dilaksanakan secara langsung seperti Pilkada Kotawaringin tahun 2010 yang lalu, dan kini berbuntut dendam berkepanjangan walaupun sudah lama penggugat kasus Pilkada ini mencabut gugatannya. Tetapi belakangan ada kabar bahwa tanggal 19 Januari 2015 ada penggugat baru melalui Kepolisian, itulah sebabnya Bambang Wijianto terpaksa diborgol polisi tanggal 23 Januari 2015 alias empat hari aetelah pengaduan masuk.



Kamis, 15 Januari 2015

Panggung (Sandiwara) Politik Indonesia

Presiden Jokowi  Harus Membayar Mahal Biaya Sandiwara Ini.

Pengajuan Calon Kapolri yang sarat masalah oleh Presiden Jokowi dimanfaatkan secara apik oleh koalisi Merah Putih dengan cara yang sangat indah. Jika sebelumnya ada kelompok yang menggambarkan kepada masyarakat akan identitas politik Koalisi Merah Putih bak penjahat dan penghianat Bangsa, maka momentum yang memang sudah carut marut ini justeru dimanfaatkan oleh koalisi Merah Putih untuk membantahnya, sekaligus membuktikan bahwa berita berita sebelumnya hanya bualan beracun oleh kelompok berhati kedil belaka.

Kelompoknya Abu Rizal juga mendompleng kecarut marutan ini untuk membuktikan bahwa Golkar kelompok Bali ingin benar benar membuktikan bahwa kelompok ini benar benar mendukung Jokowi, dengan kata lain tak perlulah Jokowi bermain mata dengan kelompok Agung Laksono yang baru bisa mencapai cuap cuap saja dalam mendukung Pemerintahan Jokowi, belum dibuktikan.  Nampak politisi Senayan lebih sigap dibanding Jokowi, pagi pagi para politisi yang gajinya dibayar dari uang rakyat itu kini rame rame cuci tangan, dan Presiden Jokowi terjebak posisi dilematis, dan kemungkinan besar harus cuci piring pula. 



Senin, 12 Januari 2015

Identitas Politik Presiden Jokowi

Decak kagum yang tak tertahankan sebagian besar masyarakat menyaksikan cara Presiden Jokowi merekrut para pembantgunya yang akan menduduki sejumlah kursi Kementerian yang melibatkan KPK- PPATK, lalu sebagian decak kagum dan bahkan fanatisme kepada Jokowi serta merta luntur ketika tampa tedeng aling aling Jokowi menaikkan harga BBM, kekecewaan ini masih tak terobati ketika Jokowi mwnurunkan harga BBM yang dianggap kemahalan itu. Kini Presiden Jokowi kembali mengndang tandatanya dan antipati ketika hanya mengajukan satu nama calon Kapolrti dan itupun tanpa melibatkan KPK-PPATK.

Belakangan terdengar kabar bahwa sang calon termasuk pejabatn yang memiliki rekening gendut, yang bersangkutan mantan Ajudan Presiden disaat Ibu Megawaty menjabat sebagai Presiden RI. Sepertinya satu persatu identitas politik Presiden Jokowi yang mengandang simpati dan menghantarnya ke kursi Kepresidenan rontok hanya dalam waktu hitungan bulan. Politik Pro Rakyat, Tidak mempraktekkan Politik Transaksional, Akan Membentuk Kabinet ramping dan bersih yang disampaikannya pada saat kampanye terdahulu sepertinya sulit sekali untuk diwujudkan.

Bahkan Presiden Jokowi menampakkan gejala gejala kehilangan identitas politiknya yang pro rakyat, sepertinya beliau begitu dilantik sebagai Presiden langsung terbebani oleh berbagai kepentingan orang orang yang sangat berjasa menghjantarnya merebut kursi nomor satu itu. Seperti halnya keputusan beliau menaikkan harga BBM maka pengangkatan Jaksa Agung dan Kapolri demikian kontroversi dan menjadi polemik di masyarakat.

Mungkin ini semua akibat banyaknya janji beliau pada saat kampanye, serta sanjungan yang berlebihan dari meduia massa, sehingga beliau dianggap seorang tokoh tampa cacat, dan bukan sebagai mansuia biasa. Tetapi kekecewaan demi kekecewaan mengakibatkan beliau kehilangan identitas politiknya. Dan ini nantinya sangat berbahaya manakala segala gerak Presiden menjadi kurang dipercaya dan bahkan diawasi keputusan kali ini demi siapa. Bukan lagi demi rakyat. Walauoun para layalis pendukung sejak awal selalu mengatakan bahwa tidak ada peraturan dan perundang undangan yang dilanggar Bapak Presiden Jokowi.  Semoga keraguan rakyat ini tidak berlangsung terlalu lama. Dan Identitas politik itu kembali tergapai.

Sabtu, 10 Januari 2015

Opposisi Di Mata Sang Diktator


Diktatorkah seorang Agung Laksono bersama teman temannya ? Entahlah. Tetapi mereka dipastikan berhasil mencabik cabik keutuhan Golkar, sehingga hampir dapat dipastikan Parpol yang banyak dihuni politisi kesohor ini tidak akan mampu berbuat banyak dalam rangka musim Pilkada  yang akan diselenggarakan tahun 2015 ini. Setelah upaya islah mengerucut dengan menyelesaikan sejumlah perbedaan, maka inti persoalanpun jelas sudah bahwa kubu Agung Laksono menganggap beropposisi dengan Pemerintah itu hukumnya haram, sehingga Golkar harus keluar dari Koalisi Merah Putih yang menyatakan diri untuk kritis terhadap Pemerintah. 

Sebenarnya Agung Laksono tidak sendirian, karena memang ada pihak pihak yang memberikan gambaran buruk atas kehadiran koalisi merah putih ini, digambarkan bahwa Pelantikan Presiden akan tergamggu dengan berbagai insiden, dan nantinya program Jokowi tidak akan jalan sebagaimana mestinya karena akan diganjal oleh Koalisi Merah Putih dengan berbagai cara. Koalisi ini digambarkan sebagai perangai buruk dalam berbangsa dan bernegara. Dan para politisinya digsambarkan sebagai penghinat negara. Belakangan baru dipahami itu hanyalah trik politiklebai semata. 

Tetapi dengan kemunculan aspirasi politik Agung Laksono dan kawan kawan nampaknya membenarkan pendapat poitik yang selama ini sudah mulai kita anggap lebai itu seolah kembali menjadi benar. Padahal itu hanyalah sedikit prilaku Diktator penguasa Indonesia yang memang lama hidup sebagai kerajaan. 

Sejarah Indonesia adalah sejarah Raja Raja, dan ciri utama seorang raja adalah diktator, banyak sekali hasil Pilkada diberbagai daerah harus kita beli dengan harga yang sangat mahal sekali, karena Pilkada yang dibiayai oleh uang rakyat itu banyak menghasilkan raja raja kecil yang diktator pula, dan memang ktulah prilaku penguasa di Indonesia. Dikatator. 

Jangankan penguasa sungguhan, orang oranmg dekat penguasa juga pada saat ini lebih dikatator, pimpinan Parpol juga masih banyak yang diktator. Kalaupun Agung Laksono juga dianggap diktator, beliau tidak sendirian, tetapi juga banyak tokoh lainnya. Dan jika ditanya mengapa Golkar ribut ... ? Jawabnya karena dipimpin secara diktator.  



Menyatukan Dua Golkar, Bisakah ?

Kamis, 08 Januari 2015

Karena Pesertanya Muda Muda Maka Merasa Semakin Muda Juga








Penghapusan Tiket Pesawat Murah Terkesan Kurang Cerdas.

Bagi mereka yang namyak uang, Pemerintah berniat menaikkan harga tiket dua kali lipat dengan alasan untuk meningkatkan pelayanan Bagi Wong Cilik atau alasan yang dikarang karang lainnyapun,   itu bagus bagus saja. Tetapi bagi kita yang sering bepergian dengan memanfaat tikep pesawat promo, yang  harus kita bayar jauh hari sbelelum keberangkatan agar mendapatkan tiket murah naik pesawat itu sangat tersasa dan sangat menyiksa. Dan secara emosuonal tentu kita akan katakan bahwa Pemerintah yang gembar gembor mengaku membela wong cilik ini terkesan di mata kita sebagai 'Kurang Cerdas'.

Walaupun mereka sebanrnya sangat cerdas karena Pemerintah nampaknya akan masuk ke tengah tengah peperangan besar antar maskapai penerbangan, dan segala kecerdasannya Pemerintah akan melaksanakan Politik Belah Bambu, Pemerintah akan memenangkan yang satu dan mengalahkan yang lain, ini merupakan momen yang tepat bagi Pemerintah untuk mengambil keputusan yang dirasakan sangat strategis, dan menguntungkan setidaknya bagi Pemerintah, walaupun hasilnya nanti kantong wong cilik juga yang akan robek-robek, dan compang camping.

gis

Sepertinya tidak ada hubungannya antara tarif murah dan keselamatan penumpang karena kita yang duduk di pesawat itu sering kali bersebelahan dengan mreka yang membayar tarif dengan harga mahal karena memang yang bersangkutan tidak mencari tiket promo seperti yang saya lakukan dengan membayar tiket seminggu sebelumnya. Dan cuacapun tidak memiliki kemampuan untuk memilih kami kami yang bayar tarif murah dan mahal dalam pebelian tiket, walaupun penampilan kami sangat berbeda sebagai akibat dukungan kantong masing masing. Walaupun kami memang nampak lebih kere, tetapi cuaca buruk tidak terpengaruh olehnya.

Politik belah bambu dilakukan oleh pemerintah kepada PPP dan Golkar, itu tidaklah terlalu terasa di kantong, tetapi politik belah bambu dalam perang tarip maskapai penerbangan akan dirasakan bukan hanya bagi maskapai penerbangan yang sedang berperang saja, tetapi rakyat kecil yang sering menggunakan tiket pesawat promo, akan terasa sekali merobek kantong " Ignatius Jonan,   Sakitnya Tuh di sini"