Rabu, 11 Maret 2015

Hikmah Merenung Karena Sakit

Sesuai dengan Ahok yang kita kenal bersama lewat media massa, bisa jadi falsafah hidup Ahok adalah "Tiada Hari Tampa Marah Marah ", silakan hitung sendiri, tetapi rasanya 60% dari penampilan Ahok di layar TV adalah ketika orang nomor satu di DKI ini sedang melancarkan aksi marahnya. Melihat serunya Ahok marah dimanapun dan kapanpun maka seorang mengatakan jika Ahok berhenti marah barangkali beliau bisa jatuh sakit. Hahaha.

Ternyata teman tadi keliru, ternyata media Televisi agak mengurangi penayangan gambar Ahok Marah tetapi dikabarkan Ahok sakit. Ternyata beliau akan berhenti marah ketika sakit, alias tidak ada yang mampu menghentikan Ahok Marah selain jatuh sakit, konom beliau menderita Demam Berdarah, televisipiun sedikit agak sepi. Sejatinya Ahok harus bersyukur dalam terpaksa cuti marah, karena marah itu tidak baik menurut agama.




Dua Menteri , Masih Mencoba Bohongi Rakyat

Kemaren Sore sebuah TV Swasta memberitakan tentang tanggapan dua orang menteri pembantu Presiden Jokowi terkait kenaikan dolar hingga menembus Rp. 13.000,00- perdolarnya. Dengan santainya dua menteri itu mengatakan bahwa kenaikan dolar itu adalah sesuatu yang sangat wajar dan bahkan Menteri satunya lagi mengatakan bahwa kenaikan dolar itu berkah bagi Bangsa Indonesia, sementara tambah berita itu bahwa Sofyan Jalil sebagai Menko Prekonomian belum dapat memberikan gambar tentang langkah langkah yang akan ditempuh terkait kenaikan dolar yang cukup mengejutkan ini.

Jawaban Sofyan Jalil jelas sangat mengecewakan, karena  tidak punya konsep, sementara dua orang menteri yang saya tak sudi menyebutkan namanya sangat mengundang kebencian, karena mereka berdua mencoba bohongi rakyat.



Selasa, 03 Maret 2015

RAHMAN HARUN "WIDURI"

Malam itu sesi acara pelatihan "Pendidikan Untuk Semua"  di Kota Solo berakhir lebih cepat dari malam sebelumnya sehingga banyak waktu bagi kami berdua untuk menikmati indahnya kota Solo di waktu malam. Sayang hujan rintik gerimis tak juga sudah. Terpaksa kami berdua mencari hiburan lainnya di hotel itu dan pilihan jatuh pada ruang Coffe atau apa namanya yang menyediakan aneka minuman yang dilengkapi orgen secara life, yang disediakan di hotel itu. Apa lacur pada saat yang sama lampu lampu hendak dipadamkan karena malam ini sepi pengunjung, alasan seorang karyawan. Dan negopun berlangsung, kami berdua butuh hiburan sementara pemain orgen dan karyawan lainnya butuh uang, maka titik temunya adalah  kami harus membayar sejumlah uang yang saya nilai tak seberapa mahal.
Di ruang yang cukup besar itu hanya ada kami berempat, yaitu pemain orgen, seorang karyawan, dan kami berdua, lampu lampu dihidupkan sehingga kesepian semakin terasa menusuk bersama dinginnya malam itu.  Si karyawan menawarkan minuman, secara iseng aku memesan wedang ronde atau wedang bandrek yang aku yakin tidak ada di hotel itu .., eeiii ... ternyata ada. Tetapi lumaian tubuh menjadi hangat. Dan lebih hangangat lagi setelah bergantian kami menyanyikan lagu kesayangan masing masing, Salah satu lagu yang dinyanyi adalah lagu "Widuri" inilah sekelumit kenangan bersama A.Rahman Harun yang pada hari selalsa 3 Maret 2015 yang lalu berhasil lulus dalam ujian Disertasinya di Pascasarjana IAIN Rd. Intan 



Jumat, 20 Februari 2015

Berebut Kekuasaan dan Simpati antara Syaiful Jamil >< Ramzie, Hakiem, Rina dan Irvan

Sejatinya seluruh acara yang ditampilkan di media massa memiliki unsur pendidikan yang menonjol, tetapi keinginan seperti ini sering nampak sulit kita dapatkan pada acara D' Academi yang katanya ingin menlahirkan seorang penyanyi yang berkarakter, kreatif dan berpotensi luar biasa. Terus terang secara pribadi saya kadang terasa merasa bosan dan kecewa ketika terjadi perdebatan antara Syaiful Jamil yang bertindak  sebagai juri melawan Ramzi, Irwan Hakim dan Rina sebagai Hos serta Ivan Gunawan sebagai juri kostum dan juga Nazar  sebagai pembimbing para peserta.

Saya tidak habis pikir mengapa pengarah acara ini tidak segera mengarahkan agar jangan terjadi perdebatan yang membosankan, saya katakan bosan adalah lantaran nampaknya mereka saling mengingkari pendapat yang satu dengan yang lain tetapi dengan argumentasi yang kasar dan diulang ulang, dan apakah harus terjadi perdebatan antara juri dengan Hos. Ketika terjadi perdebatan yang kurang memberikan pencerahan dan kekayaan batin itu penon mungkin banyak seperti saya, yaitu memindahkan ke chanel yang lain, untuk kembali lagi setelah diperkirakan perdebatan usai.


Minggu, 08 Februari 2015

Mobil Nasional Cara Jokowi

Sudah lama kita menginginkan adanya Mobil Nasional tetapi sepertinya selalu terganjal kepentingan lain sehingga perwujudan mobil nasional selalu gagal. Saya ingat ketika mobil nasional menggandeng Korea yang memproduk sedan Timor, kita sepakat untuk mengatakan Mobnas Timor gagal. Lalu mobil nasional yang dinginkan agar terjangkau oleh kantong masyarakat kecil itu oleh SBY digantikan dengan memunculkan mobil murah dengan cara ekspor. Mobil itu bisa terbilang murah lantaran pemerintah membebaskan pungutan impor, sementara pungutan itu sejatinya selalin dalam rangka menumbuhkan produk dalam negeri dan juga pemasukan bagi Pemerintah. Dengan proyek mobil merah ala SBY itu sejatinya sangat merugian bangsa yang sekali lagi terganjal keinginannya memiliki mobil Nasional dengan harga terjangkau, karena tentu saja komponen mobil murah itu datang dari luar juga.
Kini giliran Presiden Jokowi juga mencoba menjawab keinginan rakyat untuk memiliki mobil produk sendiri dengan harga yang terjangkau kocek rakyat, tetapi kembali Pemerintah sepertinya tidak perlu pusing pusing ... kembali cukup impor saja yang kini Malaysia ketiban rejeki dari Indonesia, produk Malaysia yang sebenarnya kembang kempis ini kembali berkibar.
Sungguh Jokowi melupakan jasa jasa mobil produk sendiri yang melambangkan namanya hingga jadi Presiden, Mobil SMK ... jasa itu dilupakan saja oleh Jokowi. Akan besar kerugiannya bagi bangsa ini manakala kita memiliki Prtesiden yang tidak konsisten dalam hidupnya.