Senin, 25 Januari 2016

POLITIK JANGKA PENDEK GOLKAR

Begitu Munas Golkar dimulai semakin terang benderang bahwa Kubu Abu Rizal Bakrie akan merapat ke Pemerintah, bisa jadi ini kelanjutan dari pertemuan Abu Rizal Bakrie dengan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu. dan ini juga bermakna bahwa Bangsa Indonesia akan tertunda memiliki Parpol opposisi yang kuat, seperti kita ketahui bahwa partai pendukung dan opposisi sama mulianya dsalam dunia politik dan demokrasi.
Tetapi pristiwa ini bukan tak bermanfaat bagi kemajuan bangsa, kalaupun demikian Golkar tidak kehilangan untuk kritis dengan dalih partisipasi korektif terhadap Pemerintahan Jokowi, jika seandainya Golkar tak tergiur dengan iming iming kursi kabinet.


Kamis, 17 Desember 2015

Di Atas Langit Ada Langit

Seseorang yang terbilang sukses dalam usia relatif muda terkadang dapat dimabukkan oleh kesuksesannya itu sendiri manakala Ia tak mampu membatasi diri atas keyakinannya bahwa Dia bisa dan Dia mampu. Karena di atas langit ternyata masih ada langit, jika kita merasa pintar, maka ketahuilah bahwa banyak orang yang lebih pintar, dan ada juga yang pintar tetapi kebelinger, Ia menjadi nampak bodoh dengan kepintarannya itu. Bila seseorang merasa kaya, maka ketahuilah banyak orang yang lebih kaya, dan banyak orang miskin yang lebih pemurah, pada hakikatnya orang yang pemurah dan memiliki kemampuan memberi akan jauh lebih kaya dari pada orang yang jarang bersedekah. Ketia batu merasa sebagai benda yang paling keras dan terkalahkan maka kenyataannya banyak batu besar yang yang dipecahkan berkeping keping ternyata oleh seorang yang tidak muda lagi bahkan terbilang renta. dan celakanya lagi sosok renta itu mampu memecahkan banyak batu besar dan hanya menerima upah yang sangat rendah. Dialah yang membuktikan bahwa kerasnya batu itu dapat dikalahkan dengan mudah oleh kerasnya daya kerja oleh si sosok renta sekalipun.



Terdengar kabar, terbaca berita,bahwa tokoh vokalis Faisal Akbar yang mendapat acungan jempol dalam rapat pansus Century dahulu, kini seteloh berpindah politik masuk Nasdem, katanya dipecat oleh pimpinan DPR karena diduga membocorkan isi sidang MKD yang sesungguhnya dinyatakan tertutup.
Politisi yang oleh sementara kelompok yang menyayangkan kepindahannya dari satu partai ke partai lain khawatir dinilai sebagai politisi kutu loncat.

Senin, 16 November 2015

Sang Profesor Sahabatku.

Saya dan beliaupun pasti tak ingat lagi hari dan tanggal serta jamnya, tapi saya yakin kami berdua tak akan lupa dengan peristiwa itu. Peristiwa yang saya simpan simpan itu justeru beliau sendiri yang mengungkapkannya, dalam suatu pertemuan terbatas beliau sendiri yang bercerita bahwa setelah terpilihnya beliau menjadi Dekan di Ushuluddin IAIN Rd.Intan, beliau datang ke rumah seraya bercerita bahwa beliau telah terpilih sebagai Dkan, dan sudah barang tentu meminta saran jika andai ada pemikiran untuk memajukan pengembangan pemikiran disiplin ilmu Ushuluddin di mana kami sama sama dibesarkan.

Setelah bicara dan berceritera tentang perkembangan ilmu Ushuluddin, lalu saya katakan. Jika ada sahabatku yang terpilih menjadi Dekan ataupun menjadi Rektor sekalipun, maka bagi kami kami yang berada di luar IAIN ini tidaklah menganggapnya sebagai berita besar, itu kami anggap berita biasa saja. Tetapi berita yang kami tunggu tunggu adalah siapa saja sahabat yang telah menyelesaikan program S3 nya dan meraih gelar Dr atau lainnya,  dan siapa pula yang telah mencapai gelar Provesornya. Sejenak kami berdua terdiam, kami hanyut dibawakan oleh fikiran kami masing masing.

Terbaca ada acun facebook seorang sahabat bahwa Bapak Dr. Baharudin M.Hum telah mencapai gelar Profesor. Alhamdulillah hati ini benar benar sangat bahagia, apa yang kami idamkan di luar pagar ini tersanjung dengan berita itu. Kami sendiri sangat menyadari bahwa untuk mencapai gelar Academis tersebut sangatlah banyak persyaratannya. Namun demikian bukan berarti tidak mungkin tercapai.

Mengapa kami ingin

Rabu, 11 November 2015

Semangat PKI masih belum Padam ?

Partai Komunis Indonesia (PKI) berulangkali  melakukan penghianatan keji di Bumi Indonesia ini, tetapi sebanyak itu pula PKI mampu meningkatkan pengaruhnya di Indonesia. PKI yang semula hanya partai gurem itu lambat tetapi pasti meningkatkan pengaruhnya, hingga mencapai posisi 4 besar dari belasan atau mungkin puluhan partai yang pernah ada pada saat itu. PKI memang partai ulet, licik, dan juga kejam bahkan biadab. Tetapi berdasarkan pengakuyan Komnas HAM Indonesia, mereka sudah mencari cari sejarah dan data tentang penghianatan PKI di Indonesia ternyata tidak pernah diketemukan data yang sahih. bahkan HAM hanya menemukan adanya data sahih tentang kekejaman Pemerintah dan Bangsa Indonesia tokoh dan aktivis PKI bahkan hingga anak dan keturunan mereka, sehingga sejumlah aktivis Komnas Ham menuntut agar Pemerintah dan Bangsa Indonesia meminta maaf kepada tokoh dan aktivis PKI  serta anak keturunan mereka.

Kekhawatiran kita akan kembalinya semngat politik PKI selama ini akhirnya menjadi kenyataan dengan digelarnya pengadilan rakyat. Mulai Selasa (10/11/15) sampai Jumat (13/11/15), International People's Tribunal atau pengadilan rakyat mulai digelar di Den Haag, Belanda.  Pengadilan ini berupaya untuk mengungkap peristiwa pembantaian di Indonesia antara tahun 1965 sampai 1966.

Minggu, 01 November 2015

Presiden Jokowi Dan Asap Hutan Gambut.

Waktu saya masih duduk di bangku SD, guru mengajarkan pepatah "Bagaikan Api Dalam Sekam" untuk menggambarkan bahwa dalam hidup itu tak tertutup kemungkinan  kita akan menghadapi ancaman yang tak terlalu nampak dan tak mudah dijinakkan. Belakangan pepatah ini mulai kurang signifikan, karena api dalam sekam hanya bersifat ancaman lokal semata, berbeda dengan api pada hutan gambut, tidak kurang daru Presiden Jokowi turun tangan sebelum beliau menyatakan nyerah dan meminta bantuan negara tetangga, yang akhirnya juga nyerah. Api dalam sekam tidak ada apa apanya di banding api dalam hutan gambut.

Muhammad Rasulullah SAW tidak senang dipuji puja, Gelar sebagai Rasul yang artinya pesuruh jauh lebih disukai dibanding puja puji dari ummat sekalipun, bahkan ada ungkapannya yang mengatakan taburi pasir dimulut orang yang suka memuji muji.Nampaknya semakin tinggi pujian terhadap seseorang maka semakin yang bersangkutan akan tersiksa. Lalu kita akan bertanya, inikah nasib tragis yang sedang diterima oleh Presiden pilihan kita Jokowi-JK ?. Pada masa kampanye dahulu beliau dipuji puja setinggi gunung, dan dalam waktu bersamaan yang bersangkuta pintar bula berjanji. Pujian dan janji menghantarnya meraih kemenangan, jika boleh disebut menang, karena ternyata angka unggul itu seimbang pula dengan yang Golput. Hendaknya statistik ini harus kita waspadai bersama, jangan sampai berubah menjadi asap dihutan gambut.




Pada saat kampanye disebutkan bahwa koalisi pengusung dan pendukung tidak diikat oleh koalisi bentuk transaksional, belakangan baru ketahuan bahwa telah

Kamis, 22 Oktober 2015

'TERORIS MODERN" We Will Not Go Down (Gaza) - Michael Heart - OFFICIAL VIDEO

Sebuah Lagu diputar secara berulang ulang oleh Pak Herman Mnr dalam perjalanan kami di Kota Kecil Sekayu Muba, lagu tersebut menggambarkan kejahatan Israel di jalur Baza, yang sejatinya adalah kejahatan, tetapi karena terlalu sering dilakukan dan banyak negara besar yang diam membnisu sehingga nyaris dianggak kewajaran.
Muncul penyanyi yang menyanyikan sebuah lagu yang menggambarkan kejahatan luar biasa itu sebagai perbuatan yang sangat terkutuk, kita tunggu saja apa pengaruh lagu yang sangat bermoral ini bagi masyarakat dunia. Kita ragu karena kesalahan yang dibiarkan terjadi secara berulang ulang maka lama kelamaan bisa dianggapsebagai sesuatu yang tidak salah. 



Sebuah flash menyilaukan cahaya putih
 Menerangi langit malam ini Gaza 
Orang berlarian mencari perlindungan 
Tidak tahu apakah mereka hidup atau mati