Jumat, 12 Desember 2014

Parpol Nasibmu Kini.

Setelah Politisasi Preman Di Zaman Orba. 

Dahulu di zaman Kemerdekaan menjadi politisi itu sangat mulia, bila ada seorang intelektual/ sarjana tak menceburkan diri di dunia politik maka dia akan menjadi hina karena berarti tidak memiliki semangat nasionalisme eeperti yang diharapkan. Pada saat itu serangan secara politis cukup bertubi tubi dari pihak penjajah yang membutuhkan jawaban yang juga secara politis atas serangan itu dalam rangka mempertahankan eksistensi bangsa Indonesia. Selain itu masyarakat yang juga sebagain besar masih buta huruf membutuhkan bimbingan atau setidaknya informasi dari para politisi tentang berbagai informasi perkembangan politis di Indonesia. Pada saat itu polisi sama dengan intelektual, politisi identik dengan negarawan, lalu akan menjadi pertanyaan bagi kita semua politisi sekarang identik dengan apa.

Dunia politik Indonesia sejak maklumat yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonsia maka Partai Politik Indonesia cukup menjamur, dan dinamika dunia politik demikian semarak. Hingga terjadinya penghianatan PKI yang juga merupakan bagian dari dunia politik Indonesia. PKI adalah singkatan dari Partai Komunis Indnesia, yang mengusung suatu faham yaitu paham Komunis. Rezim Orde Baru berhadapan langsung dengan Politik Hitam yang diaksenkan oleh PKI.  Di zaman Orde Baru itu pula muncul rekayasa politik oleh Pemerintah bahwa Partai Politik diharuskan memnganut satu azas yaitu azas Pancasila. Partai Politik sejak itu benar benar ada di bawah kontrol Pemerintah.

Secara beriringan ada seorang tokoh politik yang membentuk barisan dengan cara merekrut para premean untuk masuk ke dunia politiuk, merekja mendapatkan bimbingan bimbingan untuk berkiprah di dunia politik. Kini menJadi pertanyaan bagi kitaapakah usaha politisasi premena di zaman Orba itu kini telah melahirkan premanisasi politik.

Tetapi premanisme dalam berpolitik pada era Orba memang nampak jelas, pada saat itu Pemerintahlah yang dicurigai sebagai dalang dibelakang itu semua, PPP pada era Naro dan Mintareja ditenggarai ada campurtangan Pemerintah dengan dalih mereda segala perselisihan internal di di Partai itu. Demikian juga yang terjadi lingkungan PDI pada era Suryadi. Kenyataannya pada saat itu PPP lebih mudah diintefensi ketimbang PDI.

Dunia politik Indonesia terus berkembang sejalan dengan diunamika yang dialaminya, dizaman politik yang demikian pragmatis ini, dinamika politik telah dicampuri oleh uang. Dinamika politik yang demikian fluktuatif itu bukan hanya ditandai dengan berbagai konspirasi politis transaksiaonal. yang ternyata itu semua kata para politikus itu sendiri fluktuasi dinamika politik itu hadiri dibaliknya adalaha uang, semakin dinamis, semakin besar dan deras alirannya. Jika memang benar itu yang terjadi maka berarti benar pula apa kata orang Batak : " Hepeng Mangatur Nagarawon " (maf jika salah tulis).

Bila uang telah mengatur segalanya, mak berarti dibelakang itu semua ada sejumlah orang yang beruang yang tak segan segan menggelontorkan uang dalam jumlah yang banyak untuk mencapai hasrat politiknya, tetapi tentu saja uang yang digelontorkan itu diiringi dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi.

Harapan kita adalah agar gerakan para preman politik ini mampu diantisipasi oleh politisi sungguhan, sekalipun politik dalam rangka mencapai kekuasaan, tetapi kekuasaan itu hendaknya dimanfaatkan untuk menegakkan kebenaran dan mempraktekkan keadilan. Jangan mau diatur oleh para cukong preman yang menyaru sebagai politisi. Dunia politik Indonesia nampaknya sedang diobok obok. Parpol  nasibmu kini.

Senin, 08 Desember 2014

Politisi Golkar Agung Laksono DKK Belum Siap Untuk Disapih ?.

MANFAATKANLAH WAKTU YANG SEMPIT INI UNTUK MENCOBA BERPIKIR JERNIH.
Kelahiran Golkar disertai dengan kedekatan Partai ini dengan Penguasa, kedekatan ini terjalin hingga bertahun tahun sehingga bagi masyarakat sempat menganggap bahwa Golkar itu identik dengan penguasa, itu yang terjadi di era Orde Baru. Di Era Reformasi dewngan berbagai cara Golkarpun selalu dekat dengan penguasa, dan baru di era Jokowi ini Golkar berancang-ancang belajar menjadi Partai Penyeimbang, kita sebagai masyarakat menyambut gembira dengan tekad Partai ini, karena berdasarkan teori para pengamat bahwa antara partai penguasa dan partai penyeimbang, untuk tidak dikatakan opposisi, sama terhormatnya.

Sayang sekali Golkar yang baru mau belajar tidak bermanja dengan penguasa ini tiba tiba terpecah, rupanya sejumlah kader kenamaan Golkar ibarat anak kecil nampaknya dalam usia setua itu masih belum siap juga untuk disapih. Mereka juga terdiri dari kader senior yang dikomandani oleh seorang Agung Laksono yang sudah sering menduduki jabatan Kementeria dan selalu saja mendapat tempat terhormat di Psartai Golkar.

Sejatinya bangsa Indonesia menyambut gembira akan kedewasaan Golkar yang mulai bertekad tak ingin bermanja manja dengan Pemerintah, mereka bergabung dengan koalisi Merah Putih, dan Golkar dipercayai mengkomandani koalisi ini. Tetapi sayang sebagian tokoh mereka justeru belum siap mental. Sungguh disayangkan partai besar dan berpengalaman ini nampaknya tak sanggup menghindari perpecahan, perpecahan yang dirancang sendiri oleh para kadernya.

Partai besar dan berpengalaman yang satu ini nampaknya tiudak sanggup belajar dari pengalaman pahit PPP yang, yang berhasil mengubah partai ini dari kekecilannya menjadi kerdil yang menuju permanen, apakah Golkar yang untuk Pemilu kali ini mengalami  penurunan yang signifikan itu akan mampu bangkit dengan cara membuat kekisruhan dan perpecahan internal yang berkepanjangan, jangan kalian sangka perpecahan ini usai manakala Menkopolhukam dan lembaga berwenang lain memukulkan palu kepuitiusannya, bisa jadi itu baru awal untuk perpecahan yang sesungguhnya.

Selasa, 02 Desember 2014

Piil Pesenggiri itu Fastabiqul Khairot :


Bambang Eka Wijaya
IPPPL--Ikatan Pensiunan Pendidik Provinsi Lampung--di akun facebook Fachruddin Dani mencanangkan Kampanye Hidup Berniaga bagi Generasi yang Akan Datang, Minggu (30-11). Materi kampanye tersebut dirangkai dalam kearifan lokal Lampung, Piil Pesenggiri. Melalui pemaknaan khas, Piil Pesenggiri diartikan Prinsip Fastabiqul Khairat--berlomba (bersaing) dalam kebaikan. Arti lomba itu dibuat menonjol dalam uraian unsur-unsurnya. 

(1) Nemui nyimah, yang arti harfiahnya bertemu dengan kesantunan, dimaknai untuk santun orang harus produktif dalam bidangnya, maka operasional pertemuan dan kesantunan adalah produktif.(2) Nengah nyappur, yang berarti tampil terampil, operasionalnya kompetitif. (3) Sakai Sembayan, yang berarti terbuka, siap menerima siap memberi, operasionalnya kooperatif. Dan (4) Juluk Adek yang berarti nama juluk dan gelar adat, atau selalu mendapat nama baru, operasionalnya inovatif.

Demikianlah, semangat berniaga pada generasi mendatang ditumbuhkan dengan kearifan lokal Piil Pesenggiri sebagai pandangan hidup siap bersaing dalam kebaikan, didasarkan pada sikap dan perilaku berjiwa produktif, kompetitif, kooperatif, dan inovatif. 

 Kearifan lokal yang diformat khas dalam semangat kewirausahaan itu tahap awal dikampanyekan di kalangan guru SD, guna selanjutnya ditanamkan ke murid SD--mengacu ke Rasulullah Muhammad SAW yang belajar bisnis sejak usianya belia. 

 Menanamkan semangat berniaga dalam kecerdesan spiritual begitu jelas amat tepat, karena berniaga dalam terminologi Fastabiqul Khairat maknanya luas sekali sebagai usaha, mewujudkan hakikat pendidikan untuk mencapai kebahagiaan dunia-akhirat! 

Berniaga dengan kapasitas produktif, kompetitif, kooperatif, dan inovatif itu pun merupakan spiritualitas bagi generasi muda untuk bangkit dan unggul di masa depan. Untuk mencapai hasil maksimal kampanye tersebut, lebih baik lagi jika IPPPL bisa menyusun ajaran kearifan lokal berniaga tersebut dalam buku pelajaran yang sistematis, untuk selanjutnya diusulkan sebagai mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah dalam wilayah Provinsi Lampung. 

 Sistematis dimaksud, sekali jalan buku itu memberi pemahaman tentang filsafat hidup orang Lampung Piil Pesenggiri, sekaligus menanamkan religiositas Fastabiqul Khairat dalam berniaga mencapai kesejahteraan hidup baik di dunia maupun di akhirat! ***

1 komentar:


3 Desember 2014 08.31 FACHRUDDIN M. DANI mengatakan...
Mas Bambang EW. Terima kasih banget atas ulasannya ... saya gak janji mau buat apa, maklum gak punya cukup tenaga ... yang bisa saya janjikan hanyalah akan selalu berbuat apapun yang saya mampu perbuat selagi ada sisa tenaga.

Kamis, 27 November 2014

Gak Nyangka Jokowi Bisa Juga Diktator


Gak nyangka saja Pak Presiden Jokowi yang secara fisik mengesankan ringkih itu ternyata mampu menunjukkan gejala aslinya sebagai seseorang yang diktator, sungguh beda dengan SBY yang Jenderal itu yang sejak awal menunjukkan keraguannya dalam memutuskan sesuatu, beda dengan Jokowi yang diawal awalnya sudah mampu menunjukkan kegagahan dan keberaniannya untuk berbuat keras dan tegas. Setidaknya ada beberapa yang patut dijadikan contoh, pertama dalam memutuskan kenaikan harga BBM, kedua berpihak dalam kekisruhan PPP, ketiga melarang para menterinya berkunjung ke DPR dalam waktu tertentu, keempat berpihak dalam kekisruhan Golkar, kelima akan menenggelamkan kapal asing yang masuk ke Indonesia secara illegal untuk menangkap ikan. Tidak urung membuat beberapa pihak termasuk Neghara Tetangga kita Malaysia merasa gerah dengan sikap Presiden kita.


Selasa, 25 November 2014

GEGABAH, Jokowi Larang Menteri Datang ke DPR


Sangat mengejutkan semua pihak atas Keputusan Presisden Jokowi yang melarang semua Menterinya untuk menghadiri rapat bersama dengan DPR. Karena apapun alasannya larangan itu selain tak masuk akal. juga sangat tidak terduga duga untuk dapat dilakukan oleh seorang Presiden. Baik Presiden maupun DPR adalah dua lembaga tinggi yang bermitra, antara yang satu adalah setara dengan yang lain. Tetapi bila dikaji kaji hal ini ternyata bukan sesuatu yang baru, ada Gubernur dan ada Bupati atau Walikota yang untuk berapa lama mempraktekkan ketidak sesuaiannya anatara ekskutif  dan legislatif. Untuk kikta ketahui bersama ketidak sejalanan antara ekskutif dan legislatif adalah sesuatu yang sangat merugikan rakyat.



Senin, 24 November 2014

Jangan Salah Bisik Pada Jokowi


Presiden Kita Jokowi adalah seorang pekerja, prinsipnya adalah 'bekerje, bekerja dan bekerja' nampak beliau seperti keteter dalam bidang administrasi dan ketatanegaraan, dan juga nampak beliau tidak terlalu memperdulikan sisi politisnya, mana yang diyakini benar maka itu pula yang di lakukannya. Oleh karenanya kita berharap kepada orang orang yang ada di sekitarnya untuk tidak gampang memberikan informasi yang belum diyakini benar kebenarannya. Siapkanlah segala sesuatunya untuk menutupi kelemahannya. Sebagai manusia biasa maka kelemahan Jokowi sebagai Presiden semakin hari semakin nampak jelas, yang manakala tidak dibenahi oleh orang orang yang ad di sekitarnya, maka di khawatirkan memberikan dampak buruk baik bagi Jokowi sebagai Presiden maupun bagi kita semua sebagai bangsa.

Dalam forum Internasional beliau bicara blak blakan pa adanya tampa tedebg aling aling, tampa mempertimbangkan gengsi sebagai bangsa, bagi beliau yang penting adalah tujuan tercapai. para investor datang berbondong ke Indonesia. Untuk mengimbangi langkahnya yang tak populer menaikkan harga BBM dikala masyarakat menghadapi berbagai kesulitan hidup dan saat yang bersamaan harga BBM dunia meluncur turun. Dan ternyata seorang Jokowi ternyata memang tak mampu bekerja dan berbicara sendiri.



Selaku manusia Presiden kita Jokowi memang memiliki segudang kelemahan, tetapi bukankah kita semua sama tahu bahwa justeru kelemahan itulah yang menjadi kelebihannya dari yang lain, yang menghantarnya terpilih sebagai Presiden RI.

Selasa, 18 November 2014

BBM naik , Demi Pak Presiden

Presiden yang menaikkan harga BBM itu bukan hanya Jokowi, tetapi juga berapa Presiden sebelumnya. Dan kenaikan harga BBM mengakibatkan kesusahan bagi masyarakat, itu sudah rahasia umum, harigini masih percaya dengan cara berfikir beberapa pengamat ?. Pengamat itu sebagian adalah ibarat group orkes, terserah si pengundang disuruh menyanyikan lagu apa, karena tugasnya adalah menyenangkan orang lain.
Kenaikan harga BBM itu lebih dikarenakan kepentingan Presiden, kepentingan rakyat itu hanya tameng belaka. Kalau memang mereka bekerja demi rakyat, tentu yang diutamakan adalah meningkatkan daya beli masyarakat. Bila daya beli masyarakat stagnan atau bahkan turun, maka kenaikan harga BBM itu di mata rakyat adalah laknat.  Dan dalam tekanan tertentu tidak jarang Presiden menempuh jalan laknat itu.

Bila pimpinan memiliki kecenderungan untuk memperturutkan hawa nafsu maka tentu saja rakyat yang harus menanggungnya, rakyat harus merogoh kontong lebih dalam lagi, hawa nafsu kepemimpinan itu memang tidak otomatis berkonotasi negatif. Umapamanya hawa nafsu Presiden untuk menyenangkan rakyat kecil dan miskin, dan untuk itu membutuhkan dana yang besar, sementara dana yang ada dirasakan kurang. Maka cara yang paling tidak membutuhkan kecerdasan adalah menaikkan harga BBM dan mengurangi subsidinya. Dan pengalihan subsidi ini menjadi kelonggaran bagi Kabinet, atau bisa jadi seorang Presiden merasa tertekan terkait dana. Dan tentu saja Presiden harus keluar dari tekanan itu.