Kamis, 31 Juli 2014

BI Mengaku Tunjuk Langsung dalam Pencetakan Uang

Kamis, 27 Mei 2010 14:22 wi

JAKARTA - Anak usaha bank sentral Australia, Reserve Bank of Australia (RBA) memenangkan tender pencetakan uang pecahan Rp100 ribu karena pemilihan langsung oleh Bank Indonesia (BI).

Penunjukkan secara langsung dilakukan, karena tidak ada perusahaan lain yang mengajukan tender dalam percetakan pecahan Rp100 ribu dengan bahan polimer.

"Penunjukkan langsung karena hanya satu, tidak ada perusahaan lain yang produksi. Kalau tender kan harus banyak," ujar Deputi Gubernur BI, Budi Rochadi dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Kamis (27/5/2010).

Pada 1999, BI memesan 500 juta lembar pecahan Rp100 ribu senilai USD50 juta. Budi menuturkan, penunjukkan secara langsung tersebut tidak menyalahi aturan, asalkan tidak ada peserta lain dalam tender pengadaan uang itu. Proses penunjukan secara langsung itu juga masih dilakukan saat ini. "Tidak ada masalah, sekarang juga boleh," jelasnya.

SBY dan Megawati Terlibat pencetakan Uang Rupiah di Australia ?




SBY Membantah !
TRIBUNNEWS.COM, BOGOR - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menanggapi isu yang dihembuskan situs antikerahasiaan Wikileaks merilis perintah pencegahan pemerintah Australia untuk mengungkap kasus dugaan korupsi para tokoh dan pemimpin Asia.
Dari beberapa tokoh itu, nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri ikut disebut Wikileaks.
Untuk menanggapi Wikileaks, SBY langsung mengumpulkan informasi lengkap terkait tudingan tersebut. Karena itu SBY sudah mendengarkan keterangan dari beberapa pihak, antara lain, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, Menteri Keuangan (Menkeu), Chatib Basri dan kapolri Jenderal Sutarman melalui sambungan telepon.
Ditegaskan SBY, secara esensi atau rangkuman dari keterangan Gubernur BI maupun Menkeu, memang benar Indonesia pernah mencetak uang di Australia pada tahun 1999. Saat itu yang mencetak NPA (Note Printing Australia)--Organisasi itu berada dalam naungan Bank Central Australia.

Senin, 28 Juli 2014

Sahabatku Tak Gaptek Lagi.

Sebuah SMS masuk ke telepon selulerku yang membuat aku senyum senyum sendirian di hari yang fitri ini, betapa tidak seseorang yang selama ini ku kenal tak mampu membalas SMS ternyata kini mengirimi aku SMS ucapan selamat lebaran yang berbunyi seperti ini.


"Setetes embun di atas daun,
jatuh ke bumi laksana hujan,
dosa tertimbun memohon ampun,
terbisik khilaf memohon domaafkan

Lalai lidah membawa cela,
lalai hati membuat luka,
ulurkan tangan
maaf dipinta

Bukan gading ..., kalau tak retak
bukan laut kalau tak bergelombang.....
bukan manusia kalau tyak bersalah
salah dan hilaf mohon dimaafkan ... "

Susunan kata yang sangat puitis, dan tak ada yang salah tetapi aku kembali tersenyum dan tersenyum.
Mengapa .... ?

Minggu, 27 Juli 2014

Nikmatnya Lebaran Bersama

Lebaran tahun ini dirasakan lebih nikmat karena dilakukan secara bersamaan. Walaupun kebersamaan ini bukan diciptakan secara cerdas melainkan hilal sudah mencapau dua derajat lebih sehingga memungkinkan untuk di rukyah, dan inipun masih diuntungkan dengan jernihnya udara dibeberapa titik, sehingga memungkinkan untuk dilihat secara jelas. kalau saja seandainya beberapa titik itu mengalami mendung yang tebal tentu saja kita tak dapat di rukyah dan Pemerintah pasti melaksanakan lebaran di hari Selasa. Maka sejarah akan berulang yang dikatakan  "Karena Hilal Setitik Rusak Opor Sebelanga". Yang kita ingat pada saat itu pemerintah gagal melihat bulan sehingga harus berpuasa sehari lagi, sementara berdasarkan kalender yang beredar telah dinyatakan masuk tanggal 1 Sawal. Apa boleh buat karena sebagian besar ummat kita sependapat dengan Pemerintah bahwa untuk menetapkan satu Sawal harus melihat hilal terlebih dahulu, terlepas dari hambatan alami.

Pada saat saat mendatang tentu sekali lagi kita berharap kepada Pemerintah untuk menjembatani perbedaan kedua kubu yang bersikukuh untuk mempertahankan pendapatnya secara ekstrim itu. Bagi orang awam mereka berharap agar hari lebaran itu benar benar bisa diketahui kepastiannya jauh jauh hari sebelum hari H. Bukan tidak mungkin itu mampu dilakukan oleh Pemerintah.

Rabu, 23 Juli 2014

Tak Ada Kejujuran Dalam Pilpres ?


Pilpres kali ini diikuti oleh dua kandidat Capres/ Cawapresyang masing masing didukung oleh setidaknya satu televisi swasta, sehingga persainganpun semakin tajam, perang katapun semakin tak terhindarkan. Pilihan kata yang dilontarkan oleh masing masing Tim sukses semakin tak terkontrol, pihak lawan dijatuhkan sejatuh jatuihnya, bila perlu sudah bertekuk lutut sebelum pencoblosan dimulai.
Keadaan semakin kurang sipati karena apa yang dilontarkan melalui televisi yang satu, maka tak lama kemudian sudah ada jawaban pada TV yang satunya, demikian sebaliknya. Apa yang dilontarkan oleh Wiranto selaku pendukung slah satu kubu memperjelas adanya permainan yang kurang sehat itu.
Tetapi puncak dari ketidakjujuran masing masing adalah akan terlihat di kuiq Qount, nampaknya perkara hitung menghitung juga adalah merupakan alat kampamye juga, penghitungan elektabilitas adalah merupakan alat kampanye yang sangat berpengaruh, sayang penghitungan elektabilitas tidak start pada waktu yang bersamaan, sehingga yang satu lebih menikmati hasil dari survey dibanding yang lain. Angka angka itu dapat diputar balikkan, dan masyarakatpun terpengaruh dengan angka angka itu, karena sebagain masyarakat justeru ingin berpihak ke yang bakal menang saja, hitung hiotung hiburan geratis.  Walaupun sejatinya sama kita tertipu, karena dalam mencari pengaruh memang penuh dengan tipudaya.

Senin, 14 Juli 2014

Di Lapangan Bola Kaki Semua BIsa Terjadi



Semakin lama semakin jelas bahwa di lapangan bola kaki itu semua bisa terjadi, dahulu sepakbola dikira adalah olahraganya laki laki, maka pada saat ini banyak perempuan bisa hadir di lapangan ini untuk berbagaui kepentingan, selain sepakbola perempuan umpamanya.

Mencari Sejatinya Bola Tendang



Dalam suatu acara yang ditayangkan televisi swasta seorang pengamat sosial mengatakan bahwa pada saat ini,. katanya, ada tiga hal yang amat penting yaitu (1) puasa Romadhon (2) Pilpres dan (3) kejuaraan bola tendang tingkat dunia di Brazil. Kalau maksudnya mensejajarkan ketiganya itu pasti tidak tepat, lalu tepatkan menyusunnya dengan kode 1,2 dan 3 sebagai mewakili skala prioriotas dalam permasalahan yang kita hadapi sekarang ini.
Dan jika ini akan dihitung tingkat kesetujuannya, maka saya yakin lembaga survey dapat menghitung dan menetapkan kesimpulannya hanya dalam waktu detik saja, dan barangkali penrnyataan yang dibutuhkan lembaga lembaga yang menurut mdreka mereka yang diuntungkan sangat kredibel ini cukup hanya membutuhkan satu nada saja, demikian mudahnya membuat sebuah kesimpulan, dan para pengamat sudah mulai berani menidakkan hitungan lain selain cara quick qount, seperti apa yang dikatakan seorang pengamat yang mengatakan bahwa bila perhitungan real qount berbeda dengan hasil quicq qount sudah dapat dipastikan bahwa perhitungan real qount yang keliru.
Tetapi tulisan ini bukan bermaksud membahas kredebelitas lembaga survey, tetapi upaya mencari hakikat sepak bola yang disejajarkan dengan puasa Romadhon dan Pilpres itu.