Selasa, 14 Oktober 2014

Sesulit Itukah Jujur dan Konsisten Dalam Berpolitik


Sesulit itukah jujur dalam berpolitik. Inilah satu pertanyaan kita setelah kita merasa jengah akibat dijejali prilkau yang kurang terpuji para politisi dan loyalis yang menyewa baju pengamat dan provesional. Selama ini seperti koor yang terkoordinir dengan baik akan maki maki dan sumpah serapah semua kepada reformasi yang hingga kini belum jua menyejahterakan masyarakat, dan bahkan produk reformasi itu cenderung menyengsarakan. Tetapi tiba tiba saja produk reformasi dipuja dan di bela bela, itu setidaknya terjadi pada debat debat pilkada langsung atau pilkada melalui DPRD. Nampak ketiadaan kejujuran dalam berpolitik, apapun bisa dicaci manakala tidak ada kepentingan di sana dan siapapun bisa saja dipuji puji manakala ada kepentingan hadir di sana, mereka tidak konsisten,  konsistensi itu urusan ketiga belas.Padahal konsistensi adalah cara membangun kepercayaan di dunia politik. Itu berarti mereka menganggap panggung politik tidak lebih dari panggung srimulat.



Muak bagi rakyat menerima tontonanynag ditampilkan para politisi yang hasilnya tidak lebih lucu dari lawakan dagelan yang konon honorariumnya masih terbilang rendah itu. Tetapi kelebihannya bahwa apa yang ditampilkan para politisi ini para pemainnya dibayar dengan harga yang sangat mahal. Pencitraan sesaat nampaknya jauh lebih diutamnakan daripada kemanfaatannya bagi rakyat, rupanya mereka benar benar bukan bekerja untuk rakyat, dan tak jelas untuk siapanya.

Namapaknya rakyatlah yang keliru, buikankah politisi yang kita dukung itu sejatinya bukan bekerja untuk rakyat, lalu mengapa kita berharap mereka mampu memproduk sesuatu yang bermanfaat bagi rakyat, padahal mereka berbuat untuk diri mereka sendiri, atau lebih mulya adalah untuk kelompoknya. Untuk kepentingan diri sendiri serta kelompok itu mereka akan sanggup untuk menipu siapa saja termasuk menipu diri sendiri dan kelompoknya.
Bukanlah di dalam mewmpersiapkan RUU yang nantinya akan disyahkan menjadi Undang Undang dalam pasal pasal tertentu maka dibuatkan opsi opsinya, yang masing masing masing opsi tentu tidak boleh bertentangan dengan UUD dan Pancasila. Tetapi mengapa ketika opsi itu terpaksa dipilih secara voting dan salah satu opsinya didukung oleh suara terbanyak mengapa tiba tiba menjadi gaduh, dan bahkan ada upa upaya akan menggerakkan puple power untuk menentang opsi ini.
Apalagi sesuatu yang dibela itu sejatinya adalah sebuah produk terformasi yang selama ini seperti sepakat untuk dimaki maki lantaran kegagalan mereka, tetapi mengapa salah satu produknya kini harus kita bela belain matian matian secara kurang legowo.


Emang Ahok Masalah Buat Lho ?

Sepertinya kehadiran Ahok di Jakarta akan menjadi masalah bagi masyarakat itu tidak tertutup kemungkinan, di sisi tertentu Ahok membawa harapan tetapi di sisi yang lain Ahok akan membawa masalah besar khususnya bagi umat Islam, Ahok memang tegas, Ahok menang berani dan Ahok memang nekat, tak peduli apa kata orang lain, mana mana yang dia anggap perlu, maka itu akan dilaksanakannya, kita tidak tahu kepentingan siapa yang dembannya. Jika dahulu ketika Ali Sadikin menjadi Gubernur ummat sering jengkel, seperti jengkelnya ummat ketika Sudomo menjabat sebagai Kobkamtib yang menginstruksikan memata matai materi Khutbah Sholat Jum'at, maka sekarang Ahok akan lebih nekat, seperti yang sering diakuinya. 

Penertiban Kota Jakarta untuk menjadi kota bersih dan bermartabat Ahok akan berbuat apa saja tak peduli itu akan dianggap masalah bagi siappun, termasuk masalah bagi ummat Islam, Ahok pasti akan maju terus asalkan ada dasar hukumnya, dan nampaknya bila dasar hukumnya belum ada Ahok akan membuatnya, seperti larangan pemotongan hewan kurban di sekolah Dasar umapamanya. Ahok segera mengeluarkan instruksinya, tetapi Instruksi yang satu ini belum sempat ditertibkan sudah keburu heboh. Dan seenteng dia marah marah kepoada bawahannya, seenteng itu pula Ahok membantah telkah mengeluarkan istruksinya.

Ahok yang segala langkahnya mendapatkan pujian dari pendukung dan pemujanya, sangat dikhawatirkan akan menjadi contoh model bagi pejabat yang lain, model Ahok bisa saja menjadi anutan para pejabat, apalagi ternyata memang Ahok banjir pujian.

Minggu, 12 Oktober 2014

Jangan Malu Belajar Kepada Ahok


Jangan terkejut manakala suatu saat tiba tiba Ahok Mencalonkan diri sebagai Presiden dan menjadi pesahing Jokowidodo yang pada saat itu mungkin inkamben, ini bukan tidak mungkin karena memang ternyata Ahok memiliki cita cita untuk menjadi Presdien Republik Indonesia dan dia selalu melakukan sesuatu untuk mencapainya. Dan janganlah terkejut manakala ternyata Ahok pada saat terpilih karena Ahok selain keberpihakannya kepada rakyat dan plus ketegasannya mengungguli Jokowi yang sekaranmg dielu elukan sebagai pembawa keberkahan bagi rakyat abngsa Indonesia. Ini bukan tidak mungkin, itulah sebabna kita juga harus belajar kepada seorang Ahok siapapun dia.




Manakala nanti benar benar Ahok terpilih sebagai Presiden RI. Lalu apakah kita boleh marah kepada Ahok dan serta merta menolaknya lantaran ketidakpantasannya menjadi Presiden di negeri maytoritas Muslin ini.Dan lalu apakah kita juga memiliki kemampuan untuk memunculkan seorang Muslim yang memiliki kepantasan untuk jadi Presiden?.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Pilkada, Ekonomi dan Koalisi Merah Putih (Prabowo)

Pemilu telah usai, Insya Allah nanti tanggal 20 Oktober 2014 yang akan datang Presiden terpilih Jokowi - JK akan dilantik, tetapi nampaknya percaturan politik di dunia politik, khususnya di Senayan sana belum lagi selesai, bisa kita lihat dari beberapa pristiwa politik antara lain penetapan Undang Undang termasuk diantaranya Pimpinan DPR/ MPR, Pilkdada dan nanti mungkin akan ada beberapa lagi yang sedikit akan terjadi ketegangan sebagai wujud perbedaan antara kedua kubu di dunia politik Indonesiawalaupun keduanya sama berdalih untuk kesejahteraan rakyat. Padahal menurut logika kita sebagai orang awam bila memang keduanya berlomba ingin menyejahterakan rakyat pasti kesamaan akan tersebar diberbagai sisi.



Tetapi ternyata kleduanya seperti sulit untuk dipertemukan, bila yang satu ke Barat maka yang satu lagi ke Timur, nampaknya sejatinya ada ketidak jujuran di sana,Sepertinya kedua duanya kurang jujur, memang koalisi Indonesia Hebat seperti lebih agresip, itu lantaran karena Metro TV menyiarkannya secara fulgar dan kurang berimbang, sejatinya keduanya masih sama ngotot tetapi koalisi Merah Putih memang kurang terekspose.

Senin, 06 Oktober 2014

Memunculkan Politisi Lebai

JANGAN MENGORBANKAN RAKYAT UNTUK TUJUAN POLITIK.
Ilmu Politik bukanlah disiplin ilmu yang saya dalami, namun demikian sayapun mampu menangkap gejala  benrmunculannya para politisi lebai di era sekarang. Politisi lebai muncul sebagai pengaruh langsung dari sikap para tokoh besar yang memiliki rasa benci dan dendam berkepanjangan  kepada lawan politiknya. sehingga yang satu memposisikan sebagai antitesa dari yang lainnya, dalam waktu bersamaan diapun merasa bahwa dialah yang paling benar dari yang lain.

Itulah pula penyebab hilangnya etika politik, sehingga dalam berpolitik lebih berhasil merusak sitem ketimbang membangun sistem komunikasi politik. Dan pada saat saat sulit maka sang politisi lebai berupaya menggerakkan puple power kendati fitnah dan kebohongan harus disebarkan.

Celakanya berpolitik cara lebai seperti ini nampaknya juga diamini saja oleh para pengamat yang minus karakter. Sepertinya baju pengamat dan akademisi itu disandang sekedar mengamini dan menyenangkan kelompok politik lebai ini. Dalam hal ini pengamatpun layak kita sebut pengamat lebai ketika dia justeru sekedar mencari simpati penguasa atau berharap mendapatkan kepercayaan kursi empuk, sehingga mampu merubah nasib. Dengan menganggap tidak perlu mengutamakan pencerhan dari setiap apa yang diungkapkan.

Yang kkita harapkan dari politisi sejatinya adalah kemampuan mereka untuk saling membangun komunikasi untuk bersama mensejahterakan rakyat, bukan sebaliknya rakyat digosok gosok kemarahannya sehingga mereka dapat dijadikan bemper untuk mengalahkan lawan politiknya. Rangkul musuh musuh politik agar terjadi pertemanan, karena tidak ada musuh dan teman abadi dalam politik. Jangan main borong tetapi berikan janji janji agar mereka juga dapat berbuat ubtuk rakyat. Lupakan segera dendam dan benci para tokoh kita yang selama ini telah membuat keretakan di berbagai hal.

Bila ada koalisi Indonesia Hebat disuatu pihak dan koalisi Merah Putuh di pihak yang lain, rakyat tidak menghendaki mereka ssling bunuh sehingga salah satunya atau bahkan kedua duanya gugur secara sia sia, tetapi sebagai politisi yang diharapkan keduanya saling bermanuver politik, dan terjalin kerjasama untuk mensejahterakan rakyat. Bukan secara lebai membuat rakyat sebagai bemper dari kepecundangan dalam berpolitik.  

Macam macam saja fitnah keji dilontarkan dengan cara yang sangat tidak santu, seperti mengatakan lawan politik sebagai anti Pancasila, liberal, berusaha mengagalkan pelantikan Presiden, akan mengamandemen UUD 45 dan bermacam bahaya latin lainnya. Inilah politik lebai yang sekarang sedang dibangun, mereka bukan akan melindungi rakyat tetapi justeru akan berlindung kepada rakyat. Itulah politik lebai.

Minggu, 05 Oktober 2014

Koalisi Merah Putih Akan Dibenturkan Dengan Rakyat

Sepertinya koalisi Indonesia Hebat demikian kualahan menghadapi manuver politik koalisi Marah Putih lantaran dari segi jumlah sangat tidak berimbang sehingga manakala akan terjadi voting dalam memutuskan sesuatu maka koalisi Merah Putih akan unggul telak, karena hingga saat ini koalisi merah Putih ini masih solid. Koalisi Indonesia Hebat belum berhasil mempreteli koalisi Merah Putih karena koalisi Indonesia Nampaknya koalisi Merah Putih masih mempertahankan koalisi tampa transaksi tidak ada istilah bagi bagi kursi di koalisi ini. Tetapi tentu kita semua akan meragukan keteguhan prinsip ini pada saatnya nanti semua ludah itu akan tertelan kembali, karena politik tak terlepas dari transaksi rupanya. Tetapi ada satu yang menghawatirkan yaitu ada politisi yang mencoba untuk membenturkan lawan politiknya dengan rakyat. Ini berbahaya. 




Kekalahan politik pada lajur yang benar melalui DPR dan MPR sebaiknya jangan dialihkan kepada rakyat untuk bertindak brutal. Tetapi laksanakanlah komunikasi komunikasi politik dengan baik, para politisi sendirilah yang selama ini merusak dan meluluhlantakkan sistem komunikasi itu dengan cara menyebar fitnah yang sudah mulai terang terangan, bukankah menurut agama sesungguhnya fitnah itu lebih kejam dari pembuinuhan.
Memprovokasi rakyat lantaran gagal dalam kancah politik PMR dan DPR adalah sesuatu yang sangat tidak kita inginkan. Bagi yang kalah bersabarlah dan legowolah selama lima tahun, yang nanti lima tahun yang akan datang akan ada kesempatan lagi untuk Pemilu yang akan datang. 

Pembelajaran Politik Dari SBY

Untuk Megawaty dan Untuk Kita Semua.


Masih ingatkah betapa hinanya SBY dahulu di mata Megawaty dan bahkan disebut sebagai Jenderal anak Kecil oleh alm Taufik Kemas. Hinaan terhadap SBY masih juga diekspressikan ketika Jokowi ditunjuk sebagai petugas Partai untuk Menjadi Capres dengan beban tugas sebagai antitesa Presiden SBY. Adalah keliru besar bila menganggap SBY yang menyandang gelar Doktor dari IPB itu sebagai pecundang, segala cercaan yang pernah ditimpakan pada dirinya pada saat yang tepat akan dibalaskannya. Itulah yang terjadi ketika secara politis Megawaty dan koalisinya membutuhkan teman, ternyata hanya SBY-lah yang dibutuhkan, hanya SBY yang sangat mungkin dapat dijadikan teman,  dan pada saat yang bersamaan SBY-pun tak lupa memberikan pembelajaran politik bagi Megawati dan bagi kita semua.



Ketinggian hati Megawaty terhadap SBY masih