Jumat, 15 Agustus 2014

Perlunya Change Agent Dalam Revolusi Mental

FAJAR ARI DEWANTO
http://beritadaerah.com/wp-content/uploads/2013/11/fad2.jpgPerubahan sangat digemakan memasuki pemerintahan Jokowi –JK yang baru, harapan akan adanya Indonesia baru begitu kuat di seluruh Indonesia, perubahan Indonesia baru ini perlu dipetakan apa saja yang akan terjadi. Perubahan yang massive diseluruh Indonesia memang bisa disebut dengan revolusi, landasan seluruh perubahan sudah ditaruh oleh Jokowi-JK yaitu revolusi mental, ini merupakan sense of urgency yang kalau tidak berubah akan membawa bencana bagi bangsa.
Slogan revolusi mental memerlukan penjelasan lebih gamblang lagi, dan bentuknya bukan pernyataan normatif yang akan menjadi tumpukan dokumen yang tidak berguna di bawah laci meja para pembuat kebijakan namun diperlukan detil dalam bentuk indikator-indikator yang jelas dan sederhana agar bisa menjadi kenyataan.

PIDATO KENEGARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DALAM RANGKA HUT KE-69 KEMERDEKAAN RI DI HADAPAN SIDANG BERSAMA DPR DAN DPD



15 AGUSTUS 2014





Bismillahirrohmanirrohim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua,

Masih dalam suasana Idul Fitri, pada kesempatan yang membahagiakan ini, saya ingin menyampaikan ucapan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1435 Hijriyah kepada kaum muslimin dan muslimat di seluruh tanah air. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon maaf atas segala kekhilafan dalam mengemban amanat rakyat selama ini.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pidato kenegaraan kali ini akan dilanjutkan siang nanti, dengan Pidato Pengantar RAPBN Tahun Anggaran 2015 beserta Nota Keuangannya. Kedua pidato yang saya sampaikan di depan para wakil rakyat dan wakil daerah hari ini, sesungguhnya juga saya tujukan kepada seluruh rakyat Indonesia di mana pun berada.

Saudara-saudara,
Sebentar lagi, seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, akan dengan penuh suka cita merayakan proklamasi ke-merdekaan bangsa Indonesia, sebuah peristiwa yang amat ber-sejarah. Melalui proklamasi yang sederhana dan singkat, dari Jalan Pegangsaan, para pendiri bangsa mengobarkan suatu revolusi kemerdekaan yang menginspirasi bangsa-bangsa lain, melahirkan Republik besar di Asia, dan membuka sejarah Indonesia modern.

Sepanjang masa, Generasi-45 akan dikenang sebagai 

Pidato Presiden RI pada Penyampaian RUU APBN 2015 Beserta Nota Keuangannya

PIDATO PRESIDEN RI
PADA PENYAMPAIAN RUU APBN 2015 BERSERTA NOTA KEUANGANNYA
DI HADAPAN SIDANG PARIPURNA DPR-RI

15 AGUSTUS 2014

Bismilllahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua,

Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air,
Hadirin sekalian yang Saya hormati,
Mengawali pidato ini, saya mengajak hadirin sekalian, untuk sekali lagi, memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena atas rahmat dan ridho-Nya kita dapat kembali berkumpul untuk melanjutkan tugas bersama kita, setelah tadi pagi kita bersama menghadiri Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI dalam rangka penyampaian Pidato Kenegaraan.

Sesuai dengan amanat undang-undang, siang ini saya akan menyampaikan Keterangan Pemerintah, atas RAPBN Tahun Anggaran 2015, beserta Nota Keuangannya. Keterangan pemerintah yang akan saya sampaikan ini adalah yang kelima dan terakhir dalam masa bhakti Kabinet Indonesia Bersatu Kedua, dan yang kesepuluh sejak awal Kabinet Indonesia Bersatu Pertama yang saya pimpin. Oleh karena itu sudah sepatutnya saya memulainya dengan menyampaikan apresiasi saya kepada Pimpinan dan Anggota DPR-RI sebagai mitra kerja Pemerintah yang konstruktif. Tentu tidak bisa dihindari bahwa dalam melaksanakan kerja sama ini situasinya sering amat dinamis, disertai dengan perbedaan yang tajam diantara kita. Namun saya melihat semua ini menunjukkan bahwa proses demokrasi dan check and balances, berjalan di negeri ini. Evelyn Beatrice Hall, penulis biography pemikir Perancis Voltaire, menulis sebuah ungkapan yang amat terkenal, “Walau saya sangat menentang pendapat anda, tetapi saya akan memper-tahankan hak anda untuk berpendapat”. Itu adalah cerminan, bagaimana hak berpendapat dalam proses itu selalu kita jaga. Dan saya melihat bahwa ini adalah merupakan proses demokrasi yang memperkaya upaya kita untuk membawa negeri ini kearah yang lebih baik.
Hadirin sekalian yang saya muliakan,

Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin menyampaikan apresiasi saya kepada Pimpinan dan Anggota DPR RI untuk kerja-sama atas pembahasan yang dilakukan dalam pembicaraan penda-huluan RAPBN 2015 ini. Penyusunan RAPBN Tahun Anggaran 2015 juga dilakukan dengan memperhatikan saran, pendapat, dan pertimbangan DPD RI.

Secara khusus saya juga ingin menyampaikan

Selasa, 12 Agustus 2014

Menertawakan Novela di Sidang MK, Sama Dengan menertawakan Kualitas demokrasi Kita.



TERIMA KASIH PAK PRABOWO ATAS PENDIDIKAN POLITIK INI.
Banyak tokoh yang tak segan segan menertawakan dan mengejek upaya Prabowo mengajukan sidang di MK sebagai wujud ketidaklegowo-an seorang Prabowo. Dengan disiarkannya olok olok itu secara berulang ulang sayapun nyaris kehilangan rasa simpati kepada Prabowo, seolah saya menyayangkan akan terjadinya persidangan di MPK mengenai gugatan tenatng pelaksanaan dan hasil Pilpres
Tetapi setelah sidang gugatan ini dilaksanakan ternyata alangkah indahnya sidang sidang yang dilaksanakan itu, adalah merupakan pembelajaran yang sangat bermutu tentang demokrasi itu sendiri, ibarat mata kuliah, ini adalah mata kuliah setidaknya empat smester.
Ternyata persidangan persidangan ini menghadirkan saksi saksi rakyat jelata, yang jauh dari sikap ketidak jujuran dan kebohongan seperti yang dipratikkan para tokoh tokoh politik, yang terbiasa mengumbar janj yang terbiasa hari ini bersumpah dan berbicara A, hari ini berbuat B, besok memngatan C dan lusanya mengaku D.
Tetapi para saksi itu bicara sangat jujurnya, merejka mudah digertak, tidak berargumentasi, mengatakan apa adanya, kalau Ia melihat sendiri dikatakan melihat sendiri, kalau Ia dilapori maka Ia pun memngatakan dilapori. Mereka hanya membawa suatu semangat yaitu medlaporkan kecurangan yang dilakukan oleh suatu kelompok orang, dan mereka berharap ada pengadilan terhadap kecurangan itu, terlepas dari siapa nanti yang akan  memenangi pengadilan ini. Tetapi mereka ingin katakan bahwa nun jauh diujung sana di talang talang, di puncak puncak bukit, di mana mereka tinggal memang da kecurangan yang terstruktur dan masif.
Sebagian mereka memang tidak berani mengatakan sesuatu yang sangat sensitif, mereka tidak berani menyebut nama, tetapi sebagian lagi ada yang mengatakan bahwa mereka tidak takut dengan segala resiko yang bakal ditanggungnya akibat kesaksiannya di persidangan yang sangat penting ini.
Terima kasih Prabowo, kami tidak menyangsikan kenegarawananmu, terima kasih ayas segala usahamu dalam membangun bangsa ini. Kami berharap ini juga akan diimbangi oleh kecerdasan dan kejujuran para hakim di MK sehingga mereka mampu mengungkap praktik ketidak jujuran, praktik kejahatan di sekitar pemilihan ini, serta memberikan hukuman yang setiumpal.

Minggu, 10 Agustus 2014

Titisan Itu Jatuh Ke Prabowo Atau Jokowi ?



Dalam pemahaman budaya jawa yang sekarangpun masih banyak penganutnyamengatakan bahwa seseorang menjadi pimpinan dalam sebuah komunitas sekecil apapun itu sangat tergantung atas pulungnya, pulung jatuh ke pangkuan siapa, maka dialah yang akan terpilih menjadi pimpinan, maka menurut budaya Jawa pemimpin itu adalah titisan dari yang maha kuasa. Itulah pula barangkali bahwa seorang pemimpin menurut budaya Jawa itu adalah tidak boleh dipaido (dibantah).  Secara pribadi saya tidak terkejut ketika salah seorang pendukung dari salah satu calon mengatakan orang yang didukungnys itu adalah titisan dari Tuhan, itu berarti dia adalah penganut budaya Jawa, yang sudah mulai luntur itu.

Diringi olok olok Pihak lawan Prabowo Menuntut di MK.






Dengan tidak mengindahkan olok olok para pihak yang tidak mendukungnya Pasangan Capres/ Cawapres kekeh mengajukan gugatan ke MK atas pelaksanaan Pilpres 2014 yang dinilai telah dilaksabnakan dengan penuh kecuranagn yang dilaksanakan secara terstruktur masif. Berhasilkan dia menggugat praktek licik itu, entahlah.
Selama ini sengketa Pilkada bukan tidak menghampiri MK, tetapi hasilnyapun sama kita ketahui bahwa di MK, setidaknya di era Akil Mukhtar sebagai penggawanya sengketa itu berlangsung sangat lancar tampa ada halangan, dan sangat tergantung atas berapa jumlah uang yang dimainkan. Tetapi akal sehat kita mengatakan bahwa tidak mungkin lagi "orang orang" (dalam tanda petik) berani mengulangi kecurangan Akil dan kawan kawan pada saat itu. Tetapi sekali lagi entahlah.
Keculasan dalam Pilkada, Pileg dan Pilpres sepertinya sudah menjadi rahasia umum, tetapi dipastikan akan sulit dibuktikan di Mahkamah Pengadilan, dan siapapun diantara kita bila dapat menghindar tentu saja kita harus menghindar untuk menjadi saksi, apalagi kita termasuk orang yang menerima sesuatu dalam keculasan itu.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Kontroversi Ceramah Duroni Ali di Tegar TV Lampung

Sebaiknya Tegar TV menunjuk tenaga ahli untuk menyeleksi hasil rekaman ceramah seseorang untuk mempertimbangkan apakah keseluruhan dari ceramah itu layak tayang, atau perlu dilakukan sensor terlebih dahulu, dioedit ulang, baru ditayangkan.
Secara tidak sengaja saya sempat memirsa ceramah Kiyai Duroni Ali di Tegar TV Lampung, dengan tema etika takwa, pada sore tadi 2 Agustus 2014. Dalam uraiannya etika takwa itu antara lain sub tema bahasannya adalah hanya melakukan sesuatu yang bermanfaat. Tetapi yang mengejutkan adalah mengapa sang kiyai dalam membahas ini koq memasukkan fasal merokok, yang isi uraiannya selain sangat subjektif juga sangat bertentangan dengan teori kesehatan.

Intinya Kiyai Duroni Ali mengatakan bahwa merokok itu sangat bermanfaat, oleh karenannya dianjurkan bagi seseorang yang telah biasa merokok agar tetap melaksanakannya karena merokok itu baik. memang dalam membahas ini Duroni tidak membacakan dallil baik al-Quran maupun hadits sebagai pembenaran pendapatnya, kecuali menyebut sebuah nama yang katanya sebagai seorang kiyai sepuh yang manakala menghjisap rokok maka sang kiyai akan mampu membaca al-Quran dalam waktu yang sangat lama, dan manakala meninggalkan merokok maka Kiyai sepuh dimaksud tidak sanggup membaca al-Quran dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yangh lama pula. Inilah kisah yang dijadikan alasan bagi Duroni yang juga perokok itu mempertahankan pendapatnya.

Ada lagi yang cukup mengejutkan tentang uraian Kiayai Duroni Ali tentang merokok, Duroni Ali yang sepertinya kurang faham ilmu kesehatan itu juga menguraikan bahwa bila ada seorang laki laki yang tidak perokok, maka dianjurkan untuk memeruiksakan kesehatannya, karena bagi seseorang yang tidak suka merokok sudah dapat dipastikan sedang tidak sehat, karena merokok itu sehat.Dan pihak pihak yang beritihat dan menyimpulkan haram merokok adalah ulama yang kurang kerjaan, kata kiyai yang belum mampu mengendalikan hawa nafsunya dalam merokok ini.