Minggu, 14 September 2014

Belajar Bersama Ahok



Jika dikatakan belajar dari Ahok hampir dipastikan banyak pihak yang akan menolaknya, maka saya katakan belajar bersama Ahok, apalagi minggu minggu akhir ini Ahok bisa disebut sebagai bintang kamera di berbagai televisi di Indonesia, terlkait dengan penolakannya Pilkada melalui anggota DPRD yang didukung oleh Gerindra yang merupakan partai lompatan terakhir bagi Ahok yang sebelumnya beliau melompat dari PIB ke Golkar dan Melompat ke Gerindradan kemana lagi nantinya Ahok melompat kita tgunggu saja kabar berikutnya, pada saat ini Ahok keluar dari Gerindra.

Ungkapan ungkapan Ahok di minggu terakhir ini cukup mencengangkan, setidaknya antara lain  mengatakan bila Gubernur dipilih oleh DPRD maka Gubernur harus berbaik baik dengan DPRD dan menyiapkan dana khusus bagi DPRD dan dalam waktu yang bersamaan melupakan rakyat. Padahal tugas utama Gubernur adalah memberukan layanan kepada masyarakat.



Jika dahulu Gubernur dan Bupati di zaman Orde Baru sangat berkuasa, dan bahkan nomer pencalonan anggota legislatifpun ditetapkan oleh Gubernur pada tingkat Provinsi dan Bupati/ Walikota ditingkat Kabupaten/ Kota.

Pada era reformasi ini maka Legislatiflah yang lebih berkuasa. Banyak langkah langkah Gubernur, Bupati dan Walikota terhambat lantaran tidak mendapat dukungan dari Legislatif. Bisa dibayangkan betapa merajalelanya para anggota Legislatif  manakala pemilihan Kepala Daerah dipilih oleh DPRD.

Tetapi dilain pihak sudah menjadi rahasia umum bahwa praktik Pilkada sangat meracuni rakyat, khususnya akar rumput. Maka kita harus berpikir dua kali untuk menyelenggarakan Pilkada,Manakala kita secara terus menerus melanjutkan Pilkada dengan aturan yang sama maka tunggu saja kehancuran masyarakt kita. Memang sejatinyalah Pilkada itu kita kaji ulang secara ekstra kritis, sebelum masyarakat kita jadi hancur berantakan.

Lalu apa pula pelajaran yang dapat diambil dari Ahor yang bicara ceplas ceplos serta mendiskriditkan DPRD itu, taro kata Ahok memang telah melakukan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi rakyat seperti rakyat kenyang dang dompetnya berisi penuh seperti apa yang diucapkan oleh Ahik berulang ulang. Belum ... belum ada. Yang ada  baru genderang perang untuk  memecahbelah antara Legislatif dan Ekskutif  baru itu saja. Ahok baru menunjukkan bagai contohj bhubungan yang tidak baik antara keduanya. Ahol bnaru mengekspressikan sikap yang keliru yang diambil pihak legislatif.

Namun demikian tidaklah semua yang dibicarakan oleh Ahok itu keliru atau salah, ada diantaranya yang memang benar, memang merupakan kritik kita bagi legislatif selama ini.Ada memang prangai buruk para anggota DPRD yang perlu kita luruskan. Dan kepada para anggota DPRD kita harap mampu mawasdiri. Ahok perlu mengambil pelajaran dari kasus ini, demikian juga pihak legislatif, kita berharap agar semua bisa mengambil pelajaran bersama Ahok, karena bukan hanya Ahok yang keliru.

Sabtu, 13 September 2014

Mereka Kini " Jauh Sudah " (Keroncong)

SESEKALI RASA RINDUPUN MENJELMA


Sebagai makhluk sosial, pasti tak terhitung banyaknya teman,baik laki laki maupun perempuan di masa remaja dahulu, diantara mereka tentu ada juga yang sempat hinggap dihati. Mus Mulyadi dalam tembangnya yang berjudul Jauh Sudah bagi saya sudah mewakili apa yang kurasakan di hati. Tetkala kita sedang melamun atau tiba tiba melihat gambar apakah itu wajah atau gambar pemandangan lalu mengingatkan kita kepada seseorang, maka sering kurasakan bahwa lantunan lagu ini mewakili rasaku.

Inilah lirik lagu itu :

Kini jauh sudah
Oh ... pujaan ku sayang
Hancur trasa hatiku
Bila terinmgat bila ku terkenang

Tak dapat ku lupa
Semasa di sampingku
Rayuan nan mesra
Damn berkumandang
Di dalam Tlingaku

Tetapi apa daya
Kini dikau pergi
Jauh dari pandangan
Laksana awan tinggi

Mungkinkah kau kembali
Besar harapan beta
Ku memohon dewata
Semoga kita kembali bersua

Jumat, 12 September 2014

Ceplas Ceplos Gaya Ahok, Menanggalkan Etika.

PENGUASA, POLITISI DAN PARA PENGAMAT CENDERUNG BICARA SEENAKNYA SENDIRI WALAU DENGAN DALIH MEMBELA RAKYAT.



Seorang sahabat mengatakan bahwa dia tidak terkejut bila Ahok bicara ceplas ceplos, alasannya bahwa terlalu banyak dia menemui orang orang seperti Ahok bicara seperti itu setelah dekat dengan pejabat, dekat dengan anggota Polisi atau ABRI dan lain sebagainya sebagai bekingnya,  maka Ia akan bicara ceplas ceplos bicara dan bahkan menghina orang seenak perut nya. Walaupun dlam hati kecilku aku membenarkan pernyataannya walaupun tidak sepenuhnya, karena akupun pernah melihat seseorang membentak bentak karyawannya dan bahkan menghina Bangsa dan Agama karyawannta, perangai itu muncul mencuat setelah Ia merasa memiliki beking dan aman adanya.

Tetapi demi pendidikan  saya katakan bahwa anda tidak boleh menggeneralisir seperti itu, rupa rupa manusia memang macam macam, dari komunitas manapun ada yang baik dan ada yang buruk.

Yang kita sesalkan adalah kenapa harus bicara ceplas ceplos di depan umum dan disiarkan seluas luasnya oleh media massa seperti itu dan bicara yang kurang memperhatikan sopan santgun itu ternyata diamini pula oleh sejumlah politisi dan bahkan penguasa serta pengamat. Memang apa yang diucapkan oleh Ahok tidak semuanya salah, bahkan banyak diantaranya yang sangat berharga tetapi keberhargaan itu tertutupi oleh gaya ceplas ceplosnya, sehingga sepertinya kita akan sulit berpikir jernih, termasuk bagi pendukung Ahok bukanlah dikarenakan kebaikan dan budi bahasa Ahok, melainkan hanya sekedar eporia atas terpukulnya kelompok politik tertentu. Dan kita juga menyesalkan para pengamat yang bicara bukan berdasarkan ilmu melainkan keuntungan pribadi semata. 

Kita sepakat bahwa melalui dunia pendidikan kita akan membangun etika dan budi pekerti, tetapi kita gagal lantaran teori teori pendidikan bertentangan dengan prilaku penguasa, politisi dan bahkan ilmuan pada realitas kehidupankita

Kamis, 11 September 2014

Pilkada Langsung Penuh Iming Iming

BAGI PNS PILKADA LANGSUNG ITU ADALAH MALAPETAKA.



Apa yang diperdebatkan oleh para narasumber di media massa khususnya televisi mengenai Pilkada langsung hingga sasat ini sejatinya menyuarakan kepentingan politiknya masing masing dan tidak memberikan tanda tanda untuk kepentingan masyarakat luas.Dan apa yang mereka bicarakan sangatlah membosankan, untuk tidak dikatakan sebagai memuakkan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Pilkada langsung selama ini memberikan efek yang sangat buruk bagi masa delan bangsa, karena permainan politik uang melibatkan masyarakat langsung secara langsung utamanya bagi masyarakat kelas bawah, mereka umumnya diombang ambingkan oleh pecahan uang antara lima puluhan hingga ratusan ribu. Dan masyarakatpun semakin terampil untuk tidak canggung canggung bertanya kepada Tim Sukses dengan dua kata kata yang sangat akrab setiap kali menjelang Pilkada, yaitu "Wanipiro"

Bagi PNS Pilkada adalah merupakan sesuatu yang sangat menakutkan, paskapilkada adalah siap siap untuk terobrak abriknya struktur personalia, apalagi ada dua pejabat, umpamanya inkamben dan wakil maju dengan pasangan masing masing, atau antara inkamben dengan sekda atau siapapun maka Pilkada itu dapat membagi group group, dan sebenarnya seluruh PNS jadi serba salah jangankan ikut bergabung ke puak puak yang ada, tidak bergabungpun tidak urung akan dicurigai. Sungguh pilkada langsung itu adalah monster yang sangat menakutkan.

Sebaiknya para wakil kita secara cerdas membuat UU yang mengantisipasi efek buruk dari Pilkada, tetapi alih alih akan membuatkan aturan yang mampu melindungi semua pihak dari keculasan dan ancaman, tetapi justeru mereka asyik dengan perdebatan yang hanya mampu mereka pandang dari kepentingan dan keuntungan kelompok mereka masing masing tampa malu malu.

Rabu, 10 September 2014

Palembang Membuatku Tersenyum



Tak ku sangka masa masa pensiunku justeru aku harus tinggal di Palembang, karena aku ternyata bergabung dengan PT Tetira yang membantu ADB untuk memfasilitasi beberapa Kabupaten di Sumsel melaksanakan program pengembangan kapasitas penerapan stantandar pelayanan minimal pendidikan dasar yang dibiayai oleh ADB dengan memanfaat dana hibah dari Uni Eropa, kegiatan ini direncanakan berlangsung selama tiga tahun 2014-2016 dan berakhir Februari 2017
Dengan semangat bahwa "Pensiun Bukan Akhir Dari Segalanya"  dan terlalu cepat untuk pensiun PNS di usia 56 tahun, serta Selalu berjuang selama Hayat Dikandung Badan. Maka Bismillah akupun beraktivitas di Tanah Sriwijaya ini  Dan ketuka aku merenungi kota Palembang dan duduk bersimpuh di Masjid Agung yang kubanggakan itu aku sempat teringat dengan sejumlah lagu yang dinmyanyikan oleh group Golden Wing  yang sempat menghiasi blantika musik Indonesia, dan salah satu lagu mereka adalah "SENYUM HARAPAN" dan akupun tersenyum.

Sambutlah  kehadioranku ini
Tak Sabar ku menanti lagi
Hanyalah padamu kan ku dapati
Segala yang kucari

Dikaulah yang menjadi impianku
Selama ku pergi jauh
Lama sudahku menanggung rindu
Belayan  kasih sayangmu

Bersama sang matahari
Bersinar dikala pagi
Kudatang ....
Untuk mu kasih

Terimalah cinta kasih ku sayang
Walau tak seindah  impian
Berikanpadaku senyum harapan
Awal kebahagiaan 

Benar ternyata aktivitas di perusahaan itu adalah sangat menyenangkan hati, wajar saja bila aku dapat tersenyum dengan aktivitasku yang baru itu. Palembang membuatku tersenyum.

Minggu, 07 September 2014

Transisi, Transaksi atau Intervensi ?



Semula kita tak berkeberatanmemberikan acungan jempol keopada Presiden terpilih Jokowi yang selama ini kita sebagai jago blusukan itu berhasil memblusuk ke Bali berjumpa dngan Presiden SBY, kita berharap dari pertemuan itu akan ada kesepahaman yang benar benar menguntungkan rakyat. Tentang keberpihakan Jokowi kepada kepentingan rakyat tidaklah perlu kita ragukan, sehingga sewajarnya bila Ibu megawati bersama PDIPnya menetapkan Jokowi menjadi petugas Partai sebagai Presiden RI dan nyatanya mendapat dukungan signifikan dari rakyat semesta.
Terbukti Megawati dan Jokowi tidak melakukan politik transaksi dalam membentuk koalisis Parpol, kepada PKB, Nasdem, Hanura dan PIB Jokowi dan Mega tidak menjanjikan sesuatu, dan partai Koalisipun sepakat tak menuntut sesuatu karena perjuangan mereka murni untuk kepentingan rakyat semata, dengan cara menghantar Jokowi - JK untuk menduduki kursi nomor satu itu.
Tetapi pasca pertemuan Bali sepertinya ini adalah pengingkaran terhadap garis yang ditetapkan oleh Ibu Mega

Sabtu, 06 September 2014

Keterangan Nazaruddin Dalam Kasus Anas Sulit Cari Saksi

ANAS URBANINGRUM DIADILI ATAU DIHAKIMI.
Tidak tanggung tanggung dalam pengadilan kasus dakwaan korupsi atas nama Anas Urbaningrum menghadirkan delapan orang saksi yang memberatkan, tetapi dalam fakta persidangan mereka justeru meringankanhal ini semakin memperkuat kebenaran dengan apa yang sudah lama dihembuskan bahwa kasus Anas ini lebih merupakan kasus politik ketimbang kriminal. Anas memang harus dikorbankan demi kepentingan politik.
Berdasarkan pengakuan Anas sendiri bahwa ada pihak yang tidak mengehndaki kehadiran Anas sebagai ketua Partai Demokrat, oleh karenanya maka Anas harus diturunkan dari jabatannya sebagai Ketua Umum, dan kata Anas lagi bahwa pengajuan Anmas ke Persidangan ini adalah merupakan bagian skenario dari menurunkan Anas dari jabatan terhormat itu.
Dan menurut Anas lagi andai Hakim nanti menetapkan sesuatu dengan cara seadilo adilnya maka Ia berharap Ia akan dibebaskan dari segal;a tuntutan, tetapi untuk sementara ini Ia lebih merasa dihakimi ketimbang diadili dalam persidangan.
Sebagai masyarakat awam yang kurang paham hukum kita hanya berharap agar hakim menggunakan hatinurani yang penuh keadilan berdasarkan fakta hukum, bukan lantaran opini masyarakat yang sudah terlanjur buruk menilai Anas. Lebih baik para hakim itu membebaskan Anas yang ternyata salah dikemudian hari ketimbang menghukum Anas dengan hukuman seberat beratnya tertapi nanti di belakang hari ternyata Anas tidak bersalah.
Delapan saksi mem ....