Sunday, August 21, 2016

Indonesia Sedang Menuju Alih Kuasa.

Bila banak pihak asing yang menginginkan menguasai Indonesia itu sangat wajar karena Indonesia sabfat kaya, dan banyak warhganya yang tak segan menjual negeri ini. Pihak asing sangat dipercaya untuk membangun negeri ini, banyak yang tertarik menyerahkan kepada pihak asing, apalagi mereka memiliki banyak uang dan senang pula umbar janji. Skenario besar tentu saja telah dirancang sejak lama, sedikit demi sedikit ada tokoh tokoh Indonesia yang memiliki ambisi dapat mereka biayai untuk mengejar ambisi pribadi, dan tampa disadari bahwa bantuan dana tersebut pada suatu saat benar benar menjerat dan membuat bangsa ini tak berkutik.

Dahulu ada pejabat yang bertengjar dengan IMF sebagai pihak yang banyak memberikan utangan kepada Indonesia, karena si IMF itu seperti akan mengatur rumah tangga Indonesia, renggang dengan IMF kini kita bermesraan dengan China Tiongkok yang sebenarnya hanya berpindah saja dari dari mulut macan ke mulut buaya. Mereka diberikan jalan yang mulus menuju Indonesia, apalagi akhir akhir ini muncul gagasan untuk membolehkan dwi keearganegaraan.


Saturday, August 20, 2016

Demi Janji Dan Ambisi Politik, Rakyat Jangan Dikorbankan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa janji janji berhamburan pada saat Pilkada, Pilgub dan Pilpres bahkan termasuk pada saat Pilkades. Berhamburan corong janji dirasakan sebagai sesuatu yang jamak penghias demokrasi. Tetai berembus kabar bahwa Majelis Ulama akan mengumpulkan pakar dan ulama untuk menetapkan hukum janji janji yang tak ditepati pada saat pemilihan, seberapa kadar dosa atas bentuk penipuan dan penghianatan yang selama ini kita lazim belaka, adakah agama mengatur dan adakah Tuhan mengancamnya.
Ummat sejatinya sangat menanti fatwa ulama tentang hukum janji janji kampanye yang tak dipenuhi setelah terpilih, ummatpun meyakini itu sebagai dosa besar, yang nantinya Tuhan akan murka kepada yang bersangkutan, tetapi sejauh ini Majelis Ulama tak juga buka suara.

Namun yang muncul dihadapan kita Pemerintah semakn gila gilaan menyusun "Anggaran", memangkas anggaran dan mencari hutangan ke negara tetangga secara membabi buta, seolah hutang itu tak perlu dibayar oleh anak cucu. Ugal ugalan dalam menyusun anggaran nampak sekali ketika anggaran harus dirubah rubah secara berulan ulang pada saat belum lagi dilaksanakan, sementara daya serap semakin kecil adanya.

Pada saat ini kita sedang bersiap siap menghadapi inflasi besar besaran, entah nanti apa yang akan terjadi bila kita mengalami kesulitan menyiapkan sepiring nasi sehari bagi anggota keluarga kita dan orang orang yang berada dibawah tanggung jawab kita. Setelah Pemerintah menetapkan target penerimaan yang sangat tinggi serta memangkas anggaran daerah dalam jumlah yang sangat signivikan.  Haruskah janji janji itu kita bayar mahal secara bersama sama, demi gengsi orang orang yang semula kita kira memiliki kemampuan melindungi kita semua?

Wednesday, August 17, 2016

Musim Ceroboh.

Sejak zaman Kemerdekaan, baru kali ini Pemerintah dikelola dengan penuh kecerobohan, muali dari menandatangani sesuatu yang sama sekali belum dibaca, sehingga seluruh isi surat di anulir kembali, hingga yang terakhir kali lolosnya penunjukan Arcandra Tahar siorang Amerika itu menjadi salah satu pejabat Kementerian kita. Ketidak hati hatian itu sellalu saja berulang ulang menunjukkan bahwa  orang orang dekat Jokowi belum memiliki satu kata dengan perbuatan, atau masing masing berjalan sesuai dengan pikiran dan keinginannya masing masing, sementara Presiden kita gemar sekali blusukan, sehingga ada yang mengatakan bahwa blusukan itu sering dilakukan secara spontan, sehingga para pembangtunya tidak sempat mengantisipasi segala sesuatunya dengan rapih, dan pantas saja bila di sana sini terdapat kekeliruan yang semestiunya tidak terjadi.

Sebagai warganegara kita tentu berharap semoga saja kecerobahan ini adalah yang terakhir kali terjadi, selanjutnya para pembangtu Presiden dan orang orang dekatnya akan memiliki kemampuan untuk saling mengisi dalam mengantisipasi cara kerja Presiden kita, dan semoga saja orang orang dekat itu bukan justeru memanfaatkan kelemahan Presiden yang berkeinginan berjalan cepat layaknya sebagai sebuah revolusi.

Mengamin-kan Doa Yang Baik.

Seorang tetangga bertanyaapakah mengikuti doa seusai Pidato Presiden Jokowi tadi siang tanyanya.
Kebetulan tidak .... ! Jawab saya penuh tanda tanya
Doanya bagus sekali .... ! Tambah tetangga tadi.
Oh ... ya ... ?  Saya semakin tertarik.
Kayahnya Jokowi Kecolongan lagi .... ! Tambah tetangga tadi.
Wa... ! Saya semakin tertarik.
Tapi lihat saja di Youtube .... Katanya
Semakin menjadi teka teki.

Malam itu Youtube saya temukan, dan saya menyimak satu persatu doa yang disampaikan. Doanya baik, menurut saya yang mungkin kurang cermat itu ... saya tak menemukan sesuatu yang salah dalam doa itu, doa yang baik.
Saya tidak sependapat dengan tetangga yang menyatakan bahwa Jokowi kembali kecolongan, tidak slektif dalam menunjuk siapa yang membaca doa di acara sepenting itu.


Saya berpendapat ini salah satu keberhasilan Presiden Jokowi.